MUNGKID – Wajah kuyu dan sedih jelas tergambar di raut wajah Mugo Slamet, 45, warga Dusun Prampelan II, Desa Adipuro, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Dia adalah ibu dari Ahmad Hafit, terduga teroris yang ditangkap Densus 88 di Dusun Kemantren Desa Godong Kecamatan Godong Grobogan, Selasa dini hari (14/5).

Berkali-kali dia mengaku syok atas kejadian yang menimpa anaknya itu dan  berharap anaknya tidak bersalah dan pihak keamanan hanya salah tangkap. “Semoga salah tangkap. Dan anak saya dibebaskan,” kata Mugo Slamet, berurai air mata, Rabu (15/5).

Ibu dari empat anak tersebut mengaku kalau Hafit Ibu masih warga kampung yang berada di bawah Kaki Gunung Sumbing tersebut. Bahkan saat Pemilu 17 April lalu, pria yang beristri perempuan asal Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, nyoblos di TPS 06, yang berada di rumah keluarga Hafit. Dia jarang pulang bersama anak dan istrinya. Mugo Slamet mengaku tidak menyangka kalau anaknya terlibat organisasi terlarang dan dikaitkan dengan jaringan tokoh teroris asal desa tersebut, Santoso.

Menurutnya, anaknya kalau pulang biasa-biasa saja. Membawa HP, laptop dan surat kendaraan. Anaknya nggak bisa berbicara banyak. Dakwah-dakwah nggak bisa. Dia bahkan baru mengetahui (penangkapan) dari kepala dusun setempat. “Saya kaget. Ya Allah anak seperti itu kok bisa-bisanya. Mboten nyongko. Kaget,” tuturnya.

Setelah menerima kabar dari Kepala Dusun Prambelan II, Sutamto, Mugo pun berupaya menelpon anaknya. Namun tidak bisa. Kemudian, menghubungi istri Hafit, MD. Kabar anaknya ditangkap baru disampaikan kepada suaminya, Andi (50), setelah buka puasa. “Saya telepon istrinya, tapi bilang tidak tahu. Cuma bilang pergi Subuhan sampai sore nggak pulang. Setelah itu, ada petugas yang datang di rumah mengambil laptop dan KTP, saya tahunya dari istrinya begitu,” ungkapnya.

Sekalipun telah mengontrak di Grobogan, namun AH tetap menjalin komunikasi dengan orangtuanya. Bahkan, tiga hari sebelumnya sempat telepon mengabarkan jika pada Lebaran mendatang akan pulang. “Sering komunikasi, tiga hari sebelumnya telpon-telponan. Rencana mau Lebaran disini,” ujarnya.

Terduga sendiri sejak SMA tidak pernah di rumah. Dia sekolah di Cirebon sebelum akhirnya kuliah di Semarang. Namun, dia hanya bertahan setahun kuliah dan menikah. Saat disinggung pekerjaan anaknya, Mugo mengatakan, bekerja servis-servis HP di Semarang. “Kalau pulang kadang membawa HP-HP rusak. Terus diperbaiki, saya mengira kerjanya di situ (servis HP). Kalau istrinya, MD bekerja di Pondok Godong,” jelasnya.

Kepala Desa Adipuro Waluyo membenarkan terduga yang ditangkap di Grobogan, merupakan warga Dusun Prampelan II. Menurutnya, Hafit tidak ada hubungan kekerabatan dengan teroris pemimpin Mujahidin Indonesia Timur, Santoso alias Abu Wardah, yang orangtuanya berasal dari Prampelan.“Nggak ada, jauh nasabnya, jauh,” ujarnya.

Dijelaskan Waluyo, jika Santoso, orang tuanya dulunya warga Prampelan, kemudian transmigrasi ke Sulawesi. Kemudian, untuk Santoso sendiri kelahiran di Sulawesi. Untuk itu, Santoso sejak kecil hingga sekolah berada di Sulawesi. “Santoso itu, bapaknya orang sini (Prampelan), sudah transmigrasi. Santoso kelahiran Sulawesi, dia besar, sekolah, bergaul di sana. Santoso pun dulu tidak ada interaksi dengan warga sini,” tegasnya.

Menyinggung perihal AH jika benar kasusnya, kata Waluyo, hal tersebut diserahkan sepenuhnya kepada penegak hukum yang menanganinya.

Kapolsek Kaliangkrik Polres Magelang Iptu Sujarwo mendatangi rumah terduga dan menghiburnya. Dia meminta keluarga bersabar dan berdoa.“Sabar dan berdoa,” tandasnya.

Kampung Prampelan berada di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian 1500 Mdpl. Adapun kampung ini merupakan dusun tertinggi di Kabupaten Magelang. Rumah keluarga terduga pada Pemilu lalu digunakan sebagai TPS 06. Saat ini, halaman rumah dijadikan parkir SD-SMP Satu Atap Kaliangkrik. Pada bagian depan, diguunakan sebagai tempat fotokopi. (dem/din/fj)