SLEMAN – Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanung Danar Dono merasa prihatin dengan masifnya persebaran informasi hoaks di dunia maya. Hal tersebut disampaikannya ketika mengisi ceramah jelang waktu berbuka di Masjid Suciati Saliman, Grojogan, Pandowoharjo, Sleman, Rabu (15/4).

Sebagai ilustrasi, Nanung mengibaratkan kepada kita untuk tidak mengambil buah yang tidak kita  tanam. Misalnya di halaman tetangga ada pohon alpukat, buahnya lebat dan matang sampai berjatuhan.Nah, kalau kita petik boleh atau tidak? “Walaupun pemiliknya sedang jauh, kita wajib meminta izin,” kata Nanung.

Sikap tersebut juga dapat kita terapkan apabila menemui berita hoaks di media sosial. Kalau ada berita dan gambar aneh-aneh di medsos itu berita ndobos tidak perlu kita ambil dan sebarluaskan.”Abaikan saja,” pesannya.

Nanung mencontohkan berita hoaks yang baru-baru ini sedang viral. Beberapa waktu lalu muncul video yang menginformasikan bahwa kode nomor E yang tercantum dalam produk mamin menunjukkan bahwa mamin tersebut mengandung bahan babi.

Menurutnya berita tersebut tidak bisa dibenarkan alias hoaks. Sebab, kode E itu untuk menyebutkan kode tambahan bahan pangan. Kode E100 adalah kode untuk tepung kunyit. Apakah logis tepung kunyit mengandung lemak babi? Kode E140 adalah kode untuk pewarna hijau alami dari zat hijau daun atau klorofil.

Ada pula informasi hoaks yang menyebutkan bahwa buah nanas mengandung bromolin, senyawa anti kanker. Padahal, bromolin itu senyawa enzim protease yang ada di nanas. “Tidak ada hubungannya dengan kanker,” jelasnya

Menurut Nanung berita hoaks dapat diketahui dari kata-kota bombastis yang dicantumkan. “Masak disebutkan nanas 10.000 kali lebih kuat dari kemoterapi, itu jelas hoaks,” tegasnya.

Nanung menganjurkan para jamaah untuk selalu bersifat tabayyun atau teliti. Di bulan suci ini kita harus cermat dan hati-hati.”Jangan ikut-ikutan menyebar berita dusta,” ajaknya. (cr16/din/by)