JOGJA – Praktik jual beli uang, yang lazim terjadi di pinggir jalan, jelang Lebaran terus diantisipasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ. Selain membatasi jumlah yang bisa ditukarkan, setiap penukar uang pecahan kecil (UPK) juga harus mencelupkan tinta, seperti saat pemilu.

“Kami pakai tinta seperti pemilu, jadi mereka hanya bisa menukarkan satu kegiatan satu hari satu kali, untuk meminimalisir ruang gerak pedagang, ” jelas Kasir KPBI DIJ Sukoco di sela penukaran UPK di pendapa Kepatihan kantor gubernur DIJ, Rabu (15/5).

Selain itu, tiap penukaran uang juga dibatasi maksimal hanya Rp 3,8 juta. Itu untuk masing-masing satu bendel Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu dan Rp 1.000. Sukoco menjelaskan pembatasan maksimal penukaran uang pecahan itu juga untuk pemerataan. “Agar semua masyarakat terpenuhi, tidak ada tebang pilih,” jelasnya.

Untuk memudahkan pelayanan ke masyarakat, KPBI DIJ selain menjalankan layanan khas keliling, juga membuka loket penukaran yang telah bekerjasama dengan perbankan. Total disediakan di 92 titik loket di wilayah Jogja dan sekitarnya. Layanan penukaran ini dengan waktu operasional mulai pukul 09.00 sampai dengan 13.00, hingga 29 Mei nanati.

“Kami yang mobile ini tergantung nomor antrian terpenuhi, itu yang kami dahulukan itu. Jika ada yang datang lagi tetap kami layani tapi kami sesuaikan dengan kondisi uang pecahan yang sisa,” jelasnya.

Adapun jumlah uang pecahan yang disiapkan menggunakan layanan khas keliling ini dari total 12 tempat strategis di beberapa Instansi di Kota Jogja dan pasar- pasar tradisional, senilai Rp 380 juta dengan maksimal nomor antrian sampai dengan 100 per hari, “Dari pecahan itu yang paling banyak diminati masyarakat mulai dari Rp 10.000 ke bawah sampai Rp 1.000. Selain itu peminatnya lebih kecil,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, masyarakat tampak antusias dengan dibukanya fasilitas layanan khas keliling dari KPBI DIJ itu.Salah satu penukar Surati misalnya, yang juga ikut dalam antrian penukaran itu. Usai menukarkan nominal uang senilai Rp 3.8 juta. “Menurut saya ini sangat menguntungkan sekali dan saya merasa terbantu. Karena kalau di jalan-jalan kan kena potongan, kalau ini enggak (ada potongan),” tuturnya.

Demi mencukupi kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran 2019 ini, KPBI telah menyiapkan uang sebesar Rp 5,6 triliun. Diharapkan kembali oleh Sukoco,  bahwa agar masyarakat menukarkan uang di loket-loket resmi yang telah disediakan dimana akan dijamin keasliannya dan gratis tanpa dipungut biaya. “Masyarakat harus mulai berfikir cerdas, jangan menukarkan di jalan-jalan karena untuk menghindari uang palsu,” tuturnya.

Sebelumnya indikasi praktik jual beli uang dalam penukaran uang di pinggir jalan, diakui salah seorang penjual di Jalan Panembahan Senopati. Salah satu jasa penukaran uang di sana, Devy menyebut uang tersebut didapat dari orang yang dipanggilnya ‘Bos’. Menurut dia, beberapa orang yang melayani jasa penukaran tersebut hanya berkerja menjaga jasa penukaran uang. “Biasanya nanti akan dikasih 2,5 persen dari hasil penjualan,” ungkapnya. (cr15/pra/er)