BANTUL – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bantul pada April cukup banyak. Yakni sebanyak 159 kasus. Warga diminta mewaspadai penyakit mematikan ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Fauzan mengatakan, April merupakan puncak kasus DBD di Bantul. Pada Maret ada 137 kasus DBD, Februari 104 kasus, dan Januari 91 kasus.

‘’Banyaknya kasus DBD pada April karena pengaruh musim. Pada awal Maret hingga April curah hujan merata di Bantul,’’ kata Fauzan.

Curah hujan tinggi disinyalir sebagai penyebab meningkatnya jumlah sarang nyamuk. Mendongkrak populasi nyamuk aedes aegypti di Bantul.

Nyamuk aedes aegypti membawa virus dengue penyebab demam berdarah. Selain dengue, aedes aegypti juga pembawa virus demam kuning, chikungunya, dan demam zika yang disebabkan virus zika.

Sedangkan wilayah endemis DBD, kata Fauzan, ada di Kecamatan Sewon dan Kasihan. “Kedua wilayah tersebut tiap tahun paling banyak ditemukan kasus demam berdarah,” ujar Fauzan.

Langkah solutif, pihaknya bersama salah satu universitas negeri di Jogjakarta mengembangkan metode pembasmian jentik nyamuk. Bernama Bakia.

Metode Bakia merupakan cara membasmi jentik nyamuk menggunakan bakteri. Metode tersebut masih dikembangkan dan diuji coba.

“Sewon dan Banguntapan sedang diujicobakan Bakia. Namun kami belum tahu dampaknya Bakia seperti apa,” kata Fauzan.

Pihaknya rutin melakukan pemberantasan nyamuk dengan foging. Namun pengasapan tersebut bukan cara terbaik membasmi demam berdarah. Masyarakat harus berperan membasmi sarang nyamuk.

“Foging membasmi induk nyamuk. Yang terpenting adalah pemberantasan sarangnya,” kata Fauzan. (cr5/iwa/er)