BANTUL – Kekeringan melanda sejumlah lahan persawahan di Desa Argodadi, Sedayu, Bantul. Sulitnya sumber air, menyebabkan sekitar 20 hektare lahan padi tandus.

Mengatisipasi hal tersebut, para petani tak lagi mengandalkan air dari saluran irigasi pertanian. Mereka mencari sumber air dari Sungai Progo menggunakan pompa air.

Camat Sedayu, Fauzan Mua’rifin mengatakan, kekeringan terjadi di empat dusun, Cawan, Bakal, Dingkikan, dan Sungapan. Keempat wilayah tersebut sulit mendapatkan air di musim kemarau.

Debit air di saluran irigasi sangat minim. Sumber air dari sumur tanah juga sedikit. Sehingga air tidak mampu menjangkau seluruh lahan pertanian di sana.

”Kami upayakan mengambil air dari Sungai Progo. Meggunakan pompa air. Kalau mengandalkan saluran irigasi, air tidak sampai di wilayah tersebut,’’ kata Fauzan.

Satu-satunya saluran irigasi yang bisa digunakan dari Sleman. Yaitu Selokan Van Der Wijk. ‘’Saluran peninggalan dari zaman pendudukan Belanda,” ungkap Fauzan. Sekitar 100 petani mengolah lahan di kawasan tersebut.

Ketua Kelompok Tani Dusun Cawan, Kartiyo mengatakan, meski dampak kekeringan belum parah, jika tak segera diatasi, padi terancam mati. Padahal padai membutuhkan banyak air.

”Kalau perhitungan Jawa, sekarang ini seharusnya masih musim hujan. Tapi sudah sebulan lebih tidak ada hujan. Sumber air pun mengecil,” kata Kartiyo.

Selain memompa air dari Sungai Progo, petani membagi tugas melakukan pengamanan pintu air. Memastikan pintu air terbuka hingga ke saluran tersier menuju Bulak Cawan.

Apabila tidak ada pengamanan, kerap terjadi kecurangan. Air disalurkan ke wilayah lain. Sehingga tak sampai ke Bulak Cawan.

Kartiyo berharap padi dapat diselamatkan. Sehingga para petani dapat memanen padinya. Dia berharap Pemkab Bantul membantu menangani masalah tersebut. (cr6/iwa/by)