SLEMAN – Kemenangan PSS Sleman atas Arema FC dibayangi sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Itu buntut kericuhan suporter saat berlangsungnya pertandingan di MIS Rabu malam (15/5).

Laga perdana Liga 1 itu sempat terhenti sekitar setengah jam. Menyusul aksi saling lempar antarsuporter tuan rumah dan tim tamu. Sejumlah korban lemparan harus pun mendapatkan perawatan.

Bahkan, di sela kericuhan terlihat jelas oknum pendukung menyalakan petasan. Padahal, menyalakan petasan, kembang api, maupun flare dalam pertandingan dilarang. Itu berdasar pasal 52 huruf ”C” butir ”I” FIFA Stadium Safety and Security Regulations dan pasal 70 ayat (1) Kode Disiplin PSSI 2018.

Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria menegaskan, akan mengambil tindakan tegas atas kericuhan tersebut.

”Harus diusut secara tuntas bagaimana kejadian sebenarnya,” kata Tisha yang juga menjadi korban pelemparan.

PSSI, kata Tisha, masih menunggu laporan beberapa pihak terkait mengenai insiden itu. Terutama laporan dari tuan rumah, selaku penyelenggara pertandingan. Serta laporan pengawas pertandingan.

”Kami tunggu laporan ke LIB (PT Liga Indonesia Baru) untuk selanjutnya diteruskan komdis,” jelasnya.

Meski masih dalam tahap penyelidikan, ada beberapa sanksi yang menanti PSS Sleman. Mulai denda, larangan penggunaan Maguwo International Stadium (MIS), hingga pertandingan tanpa suporter.

Merujuk pasal 69 ayat (1) Kode Disiplin PSSI 2018, setiap badan yang menyelenggarakan pertandingan gagal memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan pasal 68 Kode Disiplin PSSI diberikan sanksi denda sekurang-kurangnya Rp. 20.000.000.

Adapun pasal 68 berisi tanggung jawab badan penyelenggara pertandingan. Yakni, berupa menjaga kondusivitas jalannya pertandingan.

Sedangkan dalam pasal 69 ayat (2) disebutkan, bagi pelanggaran yang serius terhadap pasal 68 atau pengulangan pelanggaran, Komite Disiplin PSSI atau Komite Banding PSSI dapat memberikan sanksi tambahan berupa sanksi penutupan seluruh stadion atau sebagian sekurang-kurangnya 2 (dua) kali pertandingan.

Bahkan, berdasar pertimbangan yang sama, Komite Disiplin PSSI atau Komite Banding PSSI dapat memberikan larangan memasuki stadion bagi suporter dan/atau pendukung klub atau badan terkait sekurang-kurangnya 1 (satu) pertandingan.

Kericuhan di MIS tak hanya menjadi ancaman turunnya sanksi bagi PSS Sleman. Lebih dari itu, juga keberlangsungan kompetisi Liga Indonesia. Lantaran banyak yang meragukan PSSI dapat menggelar liga di tengah sorotan tajam atas kasus match fixing. Kendati begitu, Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Refrizal menepis berbagai keraguan itu.

”Tidak ada pengaruh. BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia, Red) meminta liga tetap berjalan,” jelasnya.

Menurut Refrizal, ada 10 hingga 20 provokator di balik kericuhan itu.

”Sejak awal sebelum pertandingan sudah ada gelagat. Setelah dibawa keluar stadion tidak ada lagi yang rusuh,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, CEO PSS Sleman Soekeno menyayangkan atas insiden yang terjadi di laga pembuka tersebut. Padahal, pihak panitia pelaksana (panpel) sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk melakukan langkah persuasif.

Di sisi lain, sehari sebelumnya, digelar deklarasi damai suporter yang dihadiri langsung oleh Kapolda DIJ Irjen Pol Ahmad Dofiri. Bahkan, beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, elemen suporter kedua tim menggelar berbuka puasa bersama.

”Saya yakin baik suporter PSS dan Arema tidak ada niat ke arah tersebut. Tampaknya ada yang mencoba memprovokasi agar pertandingan tidak kondusif. Harapannya, ada perhatian dari kepolisian,” jelasnya.

Ketika disinggung soal ancaman sanksi, pria yang akan melepas jabatannya sebagai CEO ini menyerahkan sepenuhnya pada aturan yang berlaku. Namun, dia cukup yakin bahwa kericuhan tersebut tidak berasal dari pendukung PSS. (bhn/zam/fj)