KULONPROGO – Hidup di pondok pesantren tak selalu hanya untuk memperdalam ilmu agama. Para santri juga diajarkan keterampilan bertahan hidup di masyarakat. Hal itulah yang ditanamkan bagi para santri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Desa Karangwuluh, Temon, Kulonprogo.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

Sore itu, nuansa Ramadan begitu terasa di Pondok Pesantren Al-Hidayah. Semua santri seolah berlomba-lomba menumpuk pahala. Di ponpes yang tak jauh dari Yogyakarta International Airport (YIA) itu semua tampak bersemangat mengikuti kajian di masjid setempat.

Tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) itu titik penting yang kami ajarkan di sini. Namun keterampilan dan menempa bakat juga tidak kalah penting,” ujar pengasuh Ponpes Al-Hidayah Rofiuddin Muhammad Lutfi Hakim, Jumat (17/5).

Hal yang ditekankan agar seluruh santri bisa bermanfaat bagi orang lain. Lewat apa pun yang dimiliki. “Lulusan pondok tidak harus jadi kiai,” tambahnya.

Para santri diberi kebebasan mengasah keterampilan sesuai bakat masing-masing. Bisa juga mengembangkan potensi kewirausahaan. Menjadi seorang entrepreneur. Santri yang ingin meneruskan ke jenjang perguruan tinggi juga diupayakan mendapat akses beasiswa.

Semua itu didasarkan atas kemampuan para santri yang berbeda-beda. Ada yang tidak terlalu menonjol dalam pelajaran agama, namun tangannya begitu terampil untuk hal-hal tertentu.

Karena itu pula Ponpes Al-Hidayah menggandeng beberapa lembaga pelatihan kerja dan keterampilan. Supaya mereka bisa belajar sekaligus praktik. Beberapa santri bahkan sudah terlibat aktif dalam pekerjaan paro waktu. Ada yang bekerja di bengkel las, bisnis daring, dan usaha lainnya.

“Tentunya itu di luar jam mengaji dalam ponpes,” ungkapnya.

Dengan sistem belajar sekaligus mondok, para santri ditempa untuk selalu dinamis. Mengikuti perkembangan zaman. Mengambil yang positif. Menjauhi hal-hal dan pengaruh negatifnya.

Terlebih keberadaan YIA di Kulonprogo. Menjadikan dinamika masyarakat berjalan lebih kencang. Seiring dengan komponen sosialnya.

“Pembangunan pasti ada dampak positif dan negatifnya. Kami berharap dampak negatif itu bisa diminimalisasi dengan ilmu agama,” ujarnya.

Ponpes Al-Hidayah berdiri 2003. Jumlah satri lebih seratus orang. Mereka berasal dari berbagai daerah. Tak sedikit pula yang datang dari luar Jawa. Selain mengaji Alquran, mereka juga mempelajari kitab-kitab kuning.

“Belum lama ini santri kami juara 3 lomba membaca kitab kuning tingkat provinsi. Lomba pidato bahasa Jawa juga ada yang juara,” katanya.

Ada program khusus yang wajib dilaksanakan setiap Ramadan. Mengkhatamkan Alquran dan kitab-kitab islami. Selama sebulan penuh. Di sela itu para santri tetap aktif belajar reguler di madrasah diniyah.

Salah satu santriwati, Yesika Mailani, 17, mengaku telah tiga tahun menjadi santri di Ponpes Al-Hidayah. Warga Kaligesing, Purworejo, itu berniat menambah ilmu agama sekaligus meraih cita-cita. “Saya ingin menjadi dosen bahasa Inggris,” ucap santri yang baru saja lulus SMK itu.

Kegiatan ponpes juga melibatkan warga setempat. Ibu-ibu rutin mengikuti kajian tiap Jumat. Mereka tergabung dalam majelis taklim. Kegiatan mereka beragam. Ada mujahadah, pengajian, hingga pemberian santunan kepada jamaah yang membutuhkan.(yog/fj)