BANTUL – Ramadan menjadi berkah bagi Nafsiatun Umma, 48 tahun. Dia pemilik dan pengrajin peci rajut Al-Barokah. Rumah dia, sekaligus tempat produksi peci, di Dusun Mintoragan, Desa Wirokerten, Banguntapan, Bantul kebanjiran order setiap hari.

Atun, sapaan Nafsiatun, mengatakan, permintaan peci meningkat 100 persen. Pada hari biasa permintaan hanya 200 peci. Ramadan ini, permintaan meningkat hingga tiga kali lipat.

“Hari biasa, saya hanya mengirim 200 peci. Kalau Ramadan bisa sampai 500 peci per hari. Bahkan, sebelum Ramadan, pesanan sudah banyak,” ujar Atun.

Memenuhi banyaknya permintaan tersebut, Atun mempekerjakan 40 orang karyawan. Mereka adalah tetangga Atun.

Permintaan peci rajut tidak hanya dari Jogjakarta. Ada pula pesanan dari Solo, Jakarta, Jawa Timur, Temanggung dan Lampung. Bahkan pernah mendapat pesanan dari Malaysia.

Harga satu peci rajut Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung tingkat kerumitan dan bahan baku yang digunakan.

Kerajinan peci Al-Barokah berdiri sejak 2004. Atun bisa membuat berbagai jenis peci dan motif. Mulai peci kulit, peci Turki, peci lipat, kopiah ketu, dan peci bulat. Dia juga membuat kerajinan lain. Yakni tas, sepatu, dan dompet rajut.

Naiknya pesanan peci rajut disyukuri pegawai Atun, Giyanti, 50 tahun. Dia mengaku bisa meningkatkan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam sehari, Giyanti membuat empat peci rajut. (cr5/iwa/rg)