SLEMAN – Pertandingan sepak bola umumnya menggunakan bola karet berbalut kulit. Namun tidak demikian yang dilakukan puluhan siswa SDIT Salsabila 2 Klasemen di Desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman tadi malam (17/5).

Mereka memainkan bola berbahan buah kelapa. Bukan kelapa biasa. Sebab, bola itu berbalut api saat dimainkan. Ya, sebelum dimainkan bola itu direndam dengan minyak tanah semalaman. Lalu dibakar saat akan dimainkan.

Tak pelak, permainan anak-anak itu menjadi ekstrem. Mereka bertanding layaknya sepak bola pada umumnya. Dengan bola api yang menyala. Tentu dengan sedikit modifikasi pada aturannya.

“Jika tak berani dan tidak yakin akibatnya bisa cedera,” ungkap Kepala SDIT Salsabila 2 Klaseman Muhammad Zaelani.

Tak ada ilmu kebal atau sejenisnya yang harus dikuasai para siswa. Mereka bermain bola api secara alamiah. Kegiatan itu sengaja digelar untuk mengasah mental siswa. Agar tidak takut api. Sebagai simbol agar mereka siap menghadapi setiap tantangan.

Pertandingan sepak bola api menjadi agenda rutin tiap Ramadan sejak 2004. Kegiatan ini juga paling dinanti para siswa peserta pesantren Ramadan.

Meski cukup berbahaya, para siswa tampak sangat menikmati permainan. Selama hampir 30 menit. Mereka tidak henti-hentinya bersorak kegirangan. Dengan kaki telanjang mereka tangkas memainkan bola dari kaki ke kaki.

Sebelum pertandingan, seluruh peserta berdiri melingkar. Mereka bersama-sama melafalkan doa keselamatan. Siswa yang tidak ikut bermain berdiri menjadi pagar. Agar bola tidak keluar lapangan.

Menurut Zaelani, menendang bola api ada tekniknya. Tidak boleh asal. Cara menendangnya dengan didorong menggunakan telapak kaki. Bukan punggung kaki. “Itu guna meminimalisasi risiko cedera,” katanya.

Selain untuk meningkatkan mental dan keberanian, permainan sepak bola api mengandung makna meningkatkan ketaqwaan para siswa. “Karena sejatinya api ini kecil. Beda dengan yang di akhirat,” jelasnya.

Ahmad Faza Maulana Yuzuf, 11, mengaku senang bisa ikut main sepak bola api. Tak ada rasa takut api akan melukai kakinya. “Karena ada triknya itu. Pakai telapak kaki,” ujar bocah yang mengaku ketagihan main sepak bola api itu. (har/yog/fj)