MAGELANG – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Magelang mengundang kalangan akademisi dan masyarakat untuk menilai hasil kreasi dan inovasi (Krenova) tahun 2019. Kegiatan di Resto Kebon Semilir ini menggandeng tim reviewer dari IST Akprind Jogja. Sebanyak enam peserta memaparkan hasil kreasi dan inovasi mereka untuk bersaing menjadi empat terbaik.

Dijelaskan Kepala Balitbang Pemkot Magelang Arif Barata Sakti, tahun ini merupakan tahun kedua kerja sama dengan IST Akprind Jogja. Kampus ini akan bekerja sama dalam pendampingan karya-karya Krenova masyarakat tahun 2019. Hadir tamu undangan dari berbagai elemen yang sengaja diundang untuk turut dalam memberi pertanyaan, saran, dan kritikannya.

“Ada enam karya prototipe yang dipaparkan di kesempatan ini. Mereka langsung mendapat masukan dari masyarakat dan reviewer untuk kemudian dikembangkan selanjutnya,” katanya kemarin.

Arif berharap, kaum muda hendaknya memiliki jiwa inovator. Balitbang pun memiliki wadah untuk menampung ide-ide kreatif dan mendampingi hasil inovasinya. Ke depan diharap produk Krenova dapat diserap investor dan dikomersialisasi dengan baik.

“Kami juga baru merintis adanya galeri inovasi di samping kantor. Nantinya hasil-hasil Krenova akan kami pajang di galeri dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat,” tuturnya.

Paparan peserta digagas dan dipandu Kasubid Pengembangan dan Penerapan Iptek Balitbang Kota Magelang Yetty Setiyaningsih. Peserta yang presentasi, antara lain, Wiku dan Rusmiyati dari Kelurahan Potrobangsa dengan karya Rusend-Cut (alat pemotong dari plat bekas). Lalu Patra Agung, Bayu, dan Agung dari Kelurahan Magelang dengan karya Smart Electric Stove (kompor listrik dengan panel surya).

Damar Kuncoro Aji dari Kelurahan Cacaban dengan karya Medical Examination Outdoor dan Purwadi dari Kelurahan Jurangombo Selatan dengan karya Pendidih Air Cepat. Dua peserta berikutnya Chamim Susanto dari Botton dengan karya Automatic Drying Portable dan Rizaldi Alfian Nur dari Kelurahan Wates dengan karya Net Desk (meja laptop portable).

“Tahap berikutnya monitoring hasil dan paparan hasil produk. Kemudian diseminasi atau pengenalan produk ke masyarakat dan stakeholder,” ungkap Kabid Harmonisasi dan Inovasi Balitbang, Catur Adi Subagyo.

Krenova tahun ini, kata Catur, penilaiannya diperketat dibanding sebelum-sebelumnya. Maka tahun ini ada warna baru, yakni dewan juri berasal dari praktisi dan pelaku usaha. Sama sekali tidak menunjuk tim juri dari kalangan birokrasi, sehingga penilaian lebih objektif dan fair.

“Total yang masuk 25 peserta dari berbagai kelurahan. Kategori yang diikuti mencakup rekayasa teknologi, kerajinan dan industri rumah tangga, energi, kehutanan dan lingkungan hidup, kesehatan, agribisnis, dan pangan,” jelasnya.

Berbagai pertanyaan muncul dalam kegiatan itu. Paling banyak mengundang pertanyaan adalah karya Rizaldi Alfian Nur berupa Net Desk. Bahkan penanya dari Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang harus mempraktikkan menggunakan alat bantu untuk mobile saat menggunakan laptop. (dem/laz/rg)