Aksi Kedaulatan Rakyat Cederai Demokrasi

DWI AGUS/RADAR JOGJA

KEPENTINGAN: Diskusi BEM bersama KPU DIJ, Bawaslu DIJ, dan Polda DIJ di Politeknik LPP kemarin

JOGJA – Koordinator Umum Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DIJ, Amrin Esarey mengatakan, pihaknya tidak mendukung aksi Kedaulatan Rakyat. Gerakan yang awalnya dinamai people power dianggap tidak merepresentasikan kepentingan bangsa. Cenderung mengusung kepentingan politik.

Gerakan tersebut mencederai demokrasi. Apalagi tujuan gerakan adalah mendelegitimasi putusan hasil Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Padahal proses rekapitulasi masih berlangsung.

“Kami mendukung jika memang mengusung kepentingan bangsa. Tapi, gerakan ini digaungkan sebagian kelompok kecil. Bukan atas nama kepentingan bersama. Arahnya, mengganggu proses rekapitulasi KPU,” kata Amrin, Minggu (19/5).

Dia menolak tuduhan BEM DIJ tidak kritis. Amrin tidak ingin BEM terseret kepentingan politik. Terkait aksi, dia memiliki pandangan lain. Aksi protes atas hasil pemilu bisa disampaikan sesuai aturan.

“Ada jalurnya, Mahkamah Konstitusi, kalau merasa tidak sepakat dengan hasilnya. Nah, ini masih proses rekapitulasi dan belum ada hasilnya. Harusnya menunggu, jangan mengatasnamakan kepenting masyarakat, padahal politik,” tegas Amrin.

Meski secara kelembagaan menolak aksi Kedaulatan Rakyat, dia tidak menjamin adanya gerakan personal. Dia mengakui ada sedikit mahasiswa yang setuju gerakan tersebut.

“Memang ada info yang berangkat ke Jakarta pada 22 Mei 2019, tapi sebagai personal. Bukan atas nama BEM,” ujarnya.

Informasinya, ada sekitar 2.000 simpatisan berangkat ke Jakarta. Jadwal keberangkatannya tidak serempak.

Dirintelkam Polda DIJ, Kombespol Nanang Djuni Mawanto mengakui adanya isu pergerakan tersebut. Dia meminta masyarakat bertindak cerdas dan bijak. Bukan sekadar mengikuti aksi atas dasar provokasi.

“Kami mengimbau masyarakat tidak terprovokasi isu. Jika ingin sampaikan keberatan, harus sesuai regulasi. Hindari isu-isu liar di sosial media. Harus cerdas dan bijak,” kata Nanang. (dwi/iwa/er)