Wihara Vimalakirti di ketinggian Kecamatan Bagelen, tepatnya di Desa Hargorojo, seolah tidak terusik dengan adanya Waisak. Penganutnya tidak libur dan tetap beraktivitas seperti biasa.

BUDI AGUNG, Purworejo

Agak sulit menemukan wihara yang menjadi rumah ibadah 16 kepala keluarga di Desa Hargorojo, Bagelen, ini. Berada di sisi kiri jalan dengan posisi jalan yang menikung tajam ke kanan. Belum lagi tanjakannya lebih dari 75 derajat.

Tanpa ada papan nama, orang yang baru pertama mengunjungi tempat itu pasti akan kesulitan mendapatkannya. Bertanya kepada orang pun lumayan berat, karena nyaris tidak ada orang yang berlalu lalang di wilayah perdesaan itu.

Radar Jogja cukup lama berdiam di halaman Wihara Vimalakirti yang berdiri di atas tanah sumbangan salah seorang penganut Buddha, Warno Winoto, warga setempat. Ada tiga buah ayunan, di mana dua alat bisa digerakkan maju mundur dan satu alat dengan naik turun.

Berbentuk joglo dengan dominasi warna tembok putih dan kayu agak cokelat, tulisan Wihara Vimalakirti cukup mencolok dengan bahan akrilik biru. Ada dua papan nama lain yang dipasang di sisi kanan nama wihara.

Ya, bangunan wihara itu memang digunakan untuk beberapa kegiatan di luar upacara resmi umat. Ada radio komunitas yang hampir tiga hari terakhir tidak mengudara karena rusak. Ada pula kelompok bermain yang akan ramai saat hari Senin-Jumat.

Mainan yang ada itu menjadi aset pendukung KB yang dinamakan dengan nama Buddha, Mandarava. Namun anak asuh yang memanfaatkan KB itu sebagian besar beragama Islam.

“Kalau aktivitas (ibadah) ya sudah kemarin (Sabtu, Red). Di Borobudur, kalau hari ini (kemarin) biasa saja,” kata Marsih Dahlia yang berada di belakang bangunan wihara saat disambangi koran ini.

Dia tengah membersihkan rumput yang mengelilingi tanaman kecil, tanahnya sudah tampak mulai mengering. Dia tidak sendiri, namun bersama satu dari dua anaknya, Silvia Gita Amerta, yang duduk di atas ubin bangunan wihara. Ada dua tumpukan sedikit rumput di bagian terpisah. Hijauan ternak itu untuk menghidupi empat ekor kambing yang dipelihara di dekat rumahnya.

“Rumah saya itu di belakang wihara. Wihara ini kan sumbangan dari mertua saya,” kata Marsih yang bersuamikan Sutatok, 43, ini.

Dibangun sekitar tahun 1998, sebagai tempat upacara keagamaan bersama, bangunan itu murni dari iuran warga Buddha yang ada. Tidak ada satu pun bantuan, sepengetahuannya dari luar yang digunakan untuk membangun wihara permanen itu.

“Dulu biasanya di rumah untuk upacara. Mertua saya ingin ada tempat khusus dan merelakan tempat ini dijadikan tempat ibadah bersama,”  tambah Marsih yang anak sulungnya tengah menuntut ilmu agama Buddha di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri ini.

Meski hanya menjadi bagian kecil dari total 65 kepala keluarga yang ada di Dusun Setoyo, tidak mengurangi semangat warga Buddha tetap beribadah. Setidaknya bentuk ucapan selamat atas peringatan Waisak yang diberikan penganut keyakinan berbeda saat bertemu menjadi bentuk kekuatan.

“Kami tidak membuka atau terima tamu dalam Waisak ini. Semua biasa saja, paling mengucapkan selamat kalau ketemu dengan orang lain,” tambahnya.

Secara khusus, 16 kepala keluarga itu memang memanfaatkan empat kendaraan Elf untuk menuju ke Candi Borobudur untuk peringatan Waisak. Mereka berangkat amat pagi untuk bisa menikmati wisata terlebih dahulu sebelum mengikuti prosesi upacara pukul 16.00.

“Sekitar pukul 19.00 tadi malam, sudah sampai rumah kok,”  tambahnya. Marsih hanya menginformasikan jika wihara yang dipelihara bersama suaminya itu akan menjadi tempat bertemunya penganut Buddha dari berbagai tempat di Jateng dan DIJ, seperti Jogjakarta, Gombong, Kebumen, Adipala, dan lainnya.

“Nanti ada acara Kensusentra di tanggal 30 Mei. Ada ratusan orang yang datang dari berbagai tempat. Kebetulan tahun ini kami menjadi tuan rumah,”  tambah Marsih. (laz/fj)