MUNGKID – Detik-detik perayaan Hari Tri Suci Waisak 2563 BE diwarnai dengan penerbangan ribuan lampion. Yang berbeda, ribuan lampion itu diterbangkan sebelum detik-detik Waisak yang jatuh pukul 04.11 Minggu pagi (19/5). Sebelumnya, para biksu dan pejabat menerbangkannya saat puja bakti.

Penerbangan lampion di pelataran Candi Borobudur itu, antara lain, dilakukan Ketua Umum DPP Walubi S Hartati Murdaya, Ketua DPD Walubi Jawa Tenah David Herman Jaya, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI M Effendi, dan Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel. Juga Irjen Pol Condro Kirono yang sekarang menjabat kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) dan Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristanto. Umat Budha dan masyarakat menerbangkan lampion di Taman Lumbini.

Detik-detik Waisak ditandai dengan pemukulan lonceng berukuran besar. Sebelumnya didahului dengan meditasi. Ribuan umat Budha dari dalam dan luar negeri larut dalam semedi bersama biksu dan biksuni. Dalam semedi, umat merenungkan makna hakiki kelahiran, pencerahan, dan mangkatnya Sang Budha Gautama. Kegiatan diakhiri dengan ritual pradaksina atau mengitari Candi Borobudur sebanyak tiga kali, seraya mengumandangkan mantra dan paritha suci.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan, keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia bukan sesuatu yang melemahkan. Sebaliknya, justru sebagai kekuatan.

Menurutnya, demokrasi mampu mengelola keberagaman yang ada di Indonesia. Bahkan, keberagaman dalam kehidupan umat beragama dalam konteks demokrasi sebagai upaya untuk membangun semangat kebersamaan.

”Oleh karena itu, perhatian pada kehidupan beragama dan berdemokrasi menjadi sangat penting,” jelasnya Sabtu malam (18/5).

Politikus PPP ini menegaskan bahwa inti ajaran agama adalah kasih sayang. Bukan kebencian. Semangat inilah yang harus dirawat dengan sebaik-baiknya.

”Melalui momentum Tri Suci Waisak ini, saya ingin mengajak kepada setiap umat beragama untuk melakukan evaluasi diri,” katanya.

Hartati Murdaya dalam sambutannya mengatakan, Tri Suci Waisak setiap tahun diperingati umat Buddha se-dunia. Itu untuk mengenal kemuliaan dan keluhuran Sang Buddha, Sidartha Gautama.

”Yang menjadi suri teladan bagi kita semua dengan tujuan agar dapat mengembangkan kebajikan diri dalam hidup di dunia yang tidak kekal ini,” jelasnya. (dem/zam/rg)