JOGJA – “Sekiranya aku seorang Belanda,  aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya.  Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si Islander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.  Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya.  Ayo teruskan saja sudah penghinaan lahir batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanmu dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa Iskander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.”

Itu tulisan karya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat saat berusia 24 tahun.  Tulisan berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda) tersebut dimuat dalam surat kabar De Expres edisi 20 Juli 1913.

Tulisan tersebut sebagai wujud reaksi atas rencana kolonial Belanda menggelar perayaan 100 tahun keberadaan mereka di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Dia menilai alangkah tidak pantasnya penjajah mengadakan perayaan di atas tanah negeri yang dijajah.  Terlebih, perayaan itu dilaksanakan dengan menarik sumbangan dari penduduk pribumi.

Tulisan tersebut semakin menggugah kesadaran akan pentingnya nasionalisme di sanubari dan pikiran tokoh-tokoh bangsa Indonesia waktu itu. Ketika tulisan itu dipublikasikan, kesadaran terhadap nasionalisme sedang kuat.

Kesadaran akan nasionalisme sudah menyeruak dengan ditandai berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Pada saat itu, RM Soewardi terlibat dalam proses pembentukannya.  Sebagai mahasiswa kedokteran di School tor Opleiding van Indiche Artsen (STOVIA/Sekolah Dokter Bumiputera) di Jakarta, dia aktif dalam berbagai kegiatan hingga memunculkan Boedi Utomo.

Dia aktif menggelorakan pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara. Akibat tulisan tersebut, kolonial Belanda bersikap. RM Soewardi, yang lahir pada 2 Mei 1899 di Pakualaman, Jogjakarta, diasingkan.

Tokoh yang kemudian hari berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara ini diasingkan bersama dua temannya. Mereka adalah Tjipto Mangunkusumo dan Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Mereka dibawa ke Belanda.

Dibuang ke Belanda, nasionalisme RM Soewardi tak luntur.  Di Negeri Kincir Angin itu, RM Soewardi justru menyerap banyak ilmu pengetahuan. Dia baru pulang ke Indonesia pada 1919.

Peran RM Soewardi dalam menggaungkan nasionalisme sejatinya sudah lama. Bahkan, dia sudah berkiprah sejak beberapa tahun sebelumnya.
Tak hanya saat awal pendirian Boedi Oetomo,  dia pun menjadi panitia inti dalam Kongres I Boedi Oetomo dilaksanakan di Jogjakarta pada 3-5 Oktober 1908. Priyayi dari Puro Pakualaman ini mengorganisasi kongres selama tiga hari tersebut hingga berlangsung lancar.

Kongres diselenggarakan di gedung Sekolah Pendidikan Guru Jogjakarta.  Tempat itu sekarang dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan mengajar SMAN 11 Jogjakarta. (*/amd/fj)