JOGJA – Kota Jogja kembali menjadi lokasi kegiatan sahur keliling lintas agama yang diprakarsai Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Senin (20/5), bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, kegiatan yang telah masuk tahun ke 20 itu digelar di Kelenteng Poncowinatan.

Acara bertajuk Dengan Berpuasa Kita Padamkan Api Kebencian dan Hoaks ini dihadiri dari masyarakat dari berbagai kalangan. Selain Wakil Wali Kota Jogja Heroe Purwadi, hadir juga sejumlah pemuka dari berbagai agama, TNI, Polri, organisasi atau komunitas keagamaan, serta masyarakat umum dari berbagai agama.

Dalam pesannya, Ibu Negara keempat itu menekankan pentingnya toleransi antar umat beragama. Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras, budaya akan lebih indah jika bersatu. Tidak saling memfitnah, membenci, serta menyebar berita hoaks antar sesama. Tidak baik jika saling bertikai, karena kita semua saudara. Kita lahir di Indonesia, kita anak bangsa Indonesia, kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.“Kita dilahirkan dari satu rahim yang sama, dari rahim Ibu Pertiwi,” pesannya.

Shinta juga berpesan untuk selalu menjaga kerukunan antar umat jelang pengumuman hasil Pemilu 2019. Puasa mengajarkan kita untuk sabar, menahan diri, berbuat baik antar sesama.“Kerukunan harus bisa terjaga tidak hanya sampai 22 Mei saja. Namun harus tetap rukun pasca pengumuman dan berlanjut terus menerus,” tambah istri mendiang KH Abdurrahman Wahid itu.

Pengurus Kelenteng Poncowinatan Gutama Fantoni, mengungkapkan saling menghormati antar umat menjadi kunci kerukunan masyarakat. Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama jadi sangat penting untuk saling menghormati guna menciptakan rukun dan toleransi.“Kebersamaan acara ini harus bisa dijaga dan bisa saling menghormati,” ujarnya.

Koordinator Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Sekretariat Jogjakarta Agnes Dwi mengungkapkan kegiatan sahur keliling ini terasa sangat istimewa. Karena bertepatan dengan 111 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Dengan sahur bersama yang digagas Ibu Shinta Nuriyah Wahid ini merupakan upaya nyata merawat kebangsaan kita.“Kita harus bangkit merawat persatuan, persaudaraan, dan merawat kemanusiaan,” kata Agnes. (cr13/din/er)