GUNUNGKIDUL – Sampai sekarang tak ada yang tahu kapan masjid ini didirikan. Tiba-tiba saja ada. Makanya warga setempat menamakannya masjid tiban. Ada juga yang menyebutnya masjid jin. Lokasinya di Dusun Gambarsari, Jurangjero, Ngawen, Gunungkidul.

GUNAWAN, Gunungkidul

MASJID tiban memiliki sejarah panjang. Banyak kenangan bagi para jamaahnya. Bangunan masjid ini terletak di balik Gunung Gambar. Sekitar 27 kilometer dari pusat kota Wonosari.

Jalan beraspal hanya sampai di pintu masuk Padukuhan Jurangjero. Kondisi jalan selanjutnya berupa cor blok. Medannya naik turun. Dengan pemandangan alam nan elok di kanan kiri.

Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Wonosari menuju masjid jin. Bisa ditempuh dengan mobil atau sepeda motor.

Pengendaranya harus ekstra hati-hati. Sabtu (15/5) lalu sebuah minibus kesulitan menanjak. Jantung sempat dag dig dug karena posisi minibus tepat berada di depan Radar Jogja yang mengendarai sepeda motor. Perasaan ini lega usai berhasil menyalip dari sisi kanan.

Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 12.00. Saat Radar Jogja sampai di Padukuhan Jurangjero. Seorang pria bertelanjang dada duduk di kursi menyapa. “Madosi sinten, Mas (cari siapa, Mas)?” kata pria itu sambil mempersilakan duduk.

Setelah mengetahui maksud dan tujuan kedatangan Radar Jogja, sosok yang mengenalkan diri bernama Mantos Suwitnyo mulai angkat bicara.

Dialah juru kunci masjid jin. Mantos adalah keturunan ke – 7 penjaga masjid gaib tersebut. “Umur saya baru 25 tahun,” ucapnya dengan mimik wajah serius.

Mantos paham melihat tamunya sedikit keheranan. Karena umur yang dia sebutkan memang bertolak belakang dengan kerutan kulit kering dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.

Belum sempat dahi yang mengerut ini turun, dia pun buru-buru nyeletuk lagi. “Umur saya 25 tahun ditambah 50 tahun. Jadi genap 75 tahun,” ujar bernada canda, tapi tetap dengan mimik serius.

Setelah cukup mengobrol, Mantos pun mengantar Radar Jogja menuju masjid jin.

Melewati jalan setapak. Tak jauh dari kediaman si juru kunci. Hanya sekitar 16 langkah kaki orang dewasa. Masjid itu berada persis di belakang pekarangan rumah Mantos.

Jalan menuju masjid sedikit menurun. Lalu menanjak. Kanan kiri ditumbuhi semak belukar dan pepohonan tinggi menjulang.

Konstruksi bangunan masjid ini menyerupai rumah panggung. Dindingnya berupa anyaman bambu. Atapnya rumput ilalang kering. Fondasi lantai dari kayu berukuran besar yang dipasang menyerupai tiang dengan teknik pantek.

Di samping kanan ada sebuah gentong berbahan tanah liat. Dulu gentong itu untuk menampung air wudu. Tapi kini tak lagi difungsikan. Gentong itu kosong. Air wudu dari kran yang lebih modern. Tinggal diputar air menyembur.

“Masjid ini tiba-tiba saja berada di belakang rumah yang saya tempati sekarang. Sudah ada sejak dulu. Tidak tahu siapa yang membangunnya,” ujar Mantos.

Sejak berdiri, bangunan masjid itu beberapa kali mengalami perbaikan. Khususnya pada bagian atap dan dinding. Sedangkan kerangka bangunannya belum sekalipun direhab.

Meski berada di daerah terpencil, banyak orang datang berkunjung. Untuk salat. Atau sekadar berdoa kepada Sang Khalik. Yang berkunjung ke masjid jin cukup beragam. Tak sedikit pula yang punya hajat besar. Berdoa agar hajatnya terkabul.

“Ada calon bupati, ada pelajar datang berdoa. Saya tahu hajat mereka terkabul. Jadi bupati saestu (beneran),” ungkapnya.

Kisah tentang masjid jin memang sudah menyebar ke mana-mana. Seperti pengalaman Sidiq, warga setempat. Dia mengaku punya banyak cerita di masjid itu.

Suatu saat dia bersama teman-temannya salat di masjid itu. Berdoa agar bisa lulus ujian. “Ternyata terkabul,” ujarnya. “Ketika mendengar masjid tiban jadi ingat zaman susah dulu,” tambahnya.(yog/rg)