JOGJA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus meningkatkan layanan bagi penumpang. Mulai gerbong ber-AC, ruang tunggu stasiun yang nyaman, hingga kelengkapan menu kuliner di dalam kereta. Namun di balik itu ternyata masih banyak perlintasan sebidang tak berpalang pintu dan tanpa penjaga. Jumlahnya mencapai ratusan.

Kepala Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budiyanto tak menampik hal tersebut. Keberadaan perlintasan sebidang tanpa palang pintu rawan menyebabkan kecelakaan.

Eko merinci, total ada 236 perlintasan resmi tanpa penjagaan di sepanjang jalur operasi KA wilayah Jogjakarta. Sisanya, 178 perlintasan resmi sudah berpenjaga. “Memang lebih banyak yang tidak dijaga daripada yang dijaga, ” ungkapnya Kamis (23/5).

Soal keselamatan pengguna jalan di perlintasan KA, lanjut Eko, tergantung pada perilaku masyarakat. Terlebih bagi mereka yang memang bermental menerobos. Banyak pula yang tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Ada penjaga dan berpalang pintu pun tak sedikit orang yang nekat menerobos perlintasan saat akan ada kereta lewat. Eko tak memungkiri perilaku yang demikian sangat membahayakan keselamatan. “Apalagi sekarang jalur ganda. Dari sisi kanan dan kiri kereta akan melintas bareng,” kata Eko.

Kondisi itulah yang mendorong PT KAI menutup beberapa perlintasan liar. Berpegang pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Perlintasan liar yang dimaksud adalah jalur melompat rel yang dibuat sendiri oleh warga setempat tanpa izin.

PT KAI juga menutup perlintasan sebidang di bawah flyover . Serta perlintasan sebidang yang letaknya berdekatan. “Kebijakan ini demi mengurangi kerawanan,” ucapnya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007, penjagaan dan pembuatan perlintasan sebidang kereta api menjadi kewenangan Direktorat Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan.

Dalam hal ini PT KAI Daop 6 berwenang menempatkan penjaga perlintasan.

Eko mengimbau masyarakat selalu berhati-hati saat lewat di perlintasan sebidang kereta api. Sebab, kereta api merupakan kendaraan spesifik yang tak bisa direm mendadak karena bertonase berat dan besar. Selain hati-hati, masyarakat harus waspada dan sabar saat akan melintas. “Tengok kanan kiri dulu. Kalau kereta di rel satu sudah melintas, pastikan kereta dari arah berlawanan juga sudah melintas, baru menyeberang,” ingatnya. (cr15/yog/rg).