JOGJA-Ramadan, bulan penuh berkah. Juga kesempatan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Termasuk menimba ilmu di pondok pesantren. Kajian-kajian kitab juga lebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya. Kajian-kajian  kitab itu terutama yang berkaitan dengan akhlak, cerita nabi-nabi, dan para ulama.

“Biasanya memang, saat Ramadan di pondok itu seperti perayaan,” kata pengasuh Ponpes Ali Maksum Dr KH Hilmy Muhamad kepada Radar Jogja, Kamis (23/5). Kiai yang akrab disapa Gus Hilmy menjelaskan, selama Ramadan ini dia menggelar ngaos kitab di pondok pesantren yang didirikan oleh kakeknya tersebut.

Sebagai seorang ulama yang kini juga bestatus sebagai politisi, Gus Hilmy tentu memerhatikan kondisi politik terkini Tanah Air. Pria berusia 48 tahun itu mengingatkan kepada semua pihak untuk agar mengutamakan cara-cara yang ma’ruf. Alias cara-cara yang baik dalam mengutarakan pendapat.

Lebih lanjut, Gus Hilmy juga menegaskan bahwa apapun yang dilakukan entah itu di bidang politik atau tidak, seharusnya bisa dijadikan sebagai lahan untuk beribadah kepada Allah. “Saat ini politik adalah ladang bagi saya untuk beribadah dan berdakwah,” tegasnya.

Gus Hilmy menjadi wajah baru Dewan Perwakilan Daerah dari Jogjakarta. Dalam Pemilu 2019 yang lalu, perolehan suaranya mencapai 299.164 suara. Torehan suara itu hanya kalah dari GKR Hemas. Gus Hilmy mengaku bersyukur telah terpilih sebagai salah satu anggota DPD DIJ. Ia berterima kasih kepada siapa saja yang telah mendukungnya baik para relawan maupun masyarakat dengan memberikan hak suaranya.(cr12/din/fj)