JOGJA – Lokasi dan kualitas sekolah yang belum merata membuat penerapan aturan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) dikritisi orang tua siswa. Mengakali aturan dengan memindah domisili siswa pun dilakukan supaya bisa masuk ke sekolah idaman.

Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Suyanto mengatakan, kelemahan zonasi adalah pada kualitas sekolah yang kurang merata. Sehingga para orang tua juga ingin menempatkan anaknya di sekolah yang berkualitas. Hal itu yang banyak diakali oleh orang tua untuk memindahkan alamat anak agar ikut dalam zona sekolah yang diinginkan.

“Tahun kemarin memalsukan surat tidak mampu saja bisa terjadi,” kata kepada Radar Jogja, Kamis(23/5).

Menurut Suyanto, adanya jalur zonasi dalam pemilihan sekolah yang membuat pilihan sekolah menjadi terbatas, masih menjadi masalah yang kini masih dikeluhkan. Selain itu, kualitas sekolah yang masuk dalam zonasi, tidak semuanya memiliki kualitas yang sama dengan sekolah di zonasi lain.

Suyanto mengatakan, zonasi sebenarnya berfungsi untuk memeratakan siswa yang akan bersekolah di sekolah dekat dengan tempat tinggalnya. Meskipun pada akhirnya banyak cara yang dilakukan untuk masuk ke zonasi yang memiliki sekolah berkualitas.

“Jika nilai siswa masuk ke dalam kriteria zonasi, maka itu bukanlah zonasi yang sebenarnya,” jelas Suyanto.

Yang menjadi permasalahan, tambah Suyanto, misalkan rumah calon siswa di zona A, namun siswa termasuk dalam sekolah di zona B. Hal seperti ini bisa terjadi karena jarak rumah siswa ke sekolah zona B lebih dekat daripada ke zona A. Dan hal ini masih sering menjadi masalah.

Untuk kedepannya,Suyanto menyarankan, jika zonasi masih menjadi acuan untuk memeratakan siswa di setiap daerah, kualitas setiap sekolah harus ditingkatkan. Baik dilakukan pemerintah pusat maupun daerah. Di daerah, merencanakan kebutuhan pendidikan bisa dilakukan secara nyata.

“Mulai dari jumlah anak dan harus menyediakan berapa kursi. Namun, karena kualitas tidak merata itulah yang menjadi masalah,” ucapnya. (cr7/pra/zl)