JOGJA – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) DIJ Sasongko mengungkapkan, sumber pertanian berpotensi kritis. Itu, antara lain, akibat tingginya alih fungsi lahan. Berdasar data dinas, setiap tahun sekitar 2.000 hingga 2.500 hektare lahan beralih fungsi.

”Beralih fungsi jadi bangunan,” jelas Sasongko ditemui usai pembukaan pameran Hari Krida Pertanian di halaman Distan DIJ Senin (27/5).

Kendati begitu, Sasongko mengklaim, produksi pertanian masih aman. Keterbatasan lahan diimbangi dengan teknik dan teknologi pertanian. Agar lahan bisa panen tiga kali setahun.

”Petani juga menerapkan tumpang sari dan mina padi,” ucap Sasongko menyebut petani bisa mendapatkan keuntungan dari komoditas lain melalui dua pola ini.

Regenerasi petani juga menyumbang sumber pertanian berpotensi kritis. Menurutnya, jumlah petani muda sangat minim. Itu lantaran kalangan pemuda enggan meneruskan profesi keluarganya. Padahal, pengelolaan lahan menerapkan asas keturunan. Penerus profesi adalah anak atau keluarga petani.

”Masalah yang biasa kami temui adalah lahan kemudian dijual jika tak ada penerusnya. Ini juga sebenarnya yang menyebabkan alih fungsi lahan masih marak,” ujarnya.

Dari itu, Sasongko menegaskan, instansinya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengubah mindset. Caranya dengan mengenalkan teknik bertani yang menyenangkan. Plus manajerial pascapanen.

”Generasi muda tidak harus fokus di pengolahan, tapi bisa fokus di manajemen. Seperti mengolah pascapanen dengan sistem penjualan online,” katanya.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan DIJ Sumari mengakui tidak mudah membujuk generasi muda. Meski, kelompoknya telah mengenalkan beragam alat canggih pertanian. Kendati begitu, Sumari mengaku tak patah arang. Kelompoknya berupaya membujuk dengan iming-iming lain. Di antaranya, tanaman organik.

”Tanaman organik merupakan tren tersendiri bagi generasi muda,” katanya.

Ketika disinggung masifnya alih fungsi lahan, Sumari berpendapat hal itu akibat lemahnya penerapan regulasi. Pemerintah mudah menerbitkan izin pembangunan. (dwi/zam/er)