SLEMAN – Sebanyak 25 pemilik dan pembeli apartemen di Malioboro City terancam kehilangan ratusan juta rupiah. Hal itu disebabkan unit apartemen yang telah mereka beli dikabarkan akan dilelang Bank MNC.

PT Inti Hosmed sebagai pemrakarsa dikabarkan terjerat utang dengan pihak bank. Membuat bank harus melelang seluruh aset pemrakarsa.

Salah seorang pembeli apartemen, Panji Jumadi mengaku kaget mendapatkan kabar tersebut. Padahal apartemen sudah dia beli.

“Kami sudah membayar. Ada yang sudah lunas. Ada yang masih mengangsur. Kami juga sudah ada yang menerima Perjanjian Peningkatan Jual Beli (PPJB),” kata Panji. Senin (26/5).

Selama ini dia belum diberitahu terkait lelang. Padahal, dari informasi yang dia terima, proses lelang akan dilakukan pada 28 Mei 2019.

Sebelumnya dia telah menyetorkan uang sekitar Rp 550 juta untuk membeli satu unit kamar kondotel. Tiba-tiba ada pengumuman lelang hotel dan kondotel serta lahan kosong di Malioboro City di Jalan Adi Sucipto KM 8 oleh Bank MNC.

Sehingga, dia bersama puluhan pembeli lain terancam kehilangan uang ratusan juta. Bisa saja unit apartemen yang dibeli juga urung didapat.

Pihaknya telah beberapa kali menanyakan kasus tersebut kepada pemrakarsa. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada kejelasan investasi mereka.

“Ada 500-an unit kamar. Yang laku sudah sekitar 350 kamar. Kami sebagai konsumen sudah membayar. Tapi tiba-tiba dilelang tanpa pemberitahuan. Bahkan sudah pelelangan kali kedua,” kata Panji.

Pembangunan apartemen sudah berlangsung sejak 2013. Dia dan para pembeli lain sudah berusaha mengikuti semua kewajiban.Termasuk kewajiban membayar lunas sebagai syarat kepemilikan apartemen.

“Dokumen (PPJB) ini dari dulu (dapat). Saya sudah melunasi, padahal seharusnya saya mendapatkan akta jual beli sebagai bukti sudah lunas. Sampai sekarang (2019) belum ada perubahan apa-apa,” kata dia.

Kegelisahan para pembeli muncul dengan adanya pengumuman lelang. Apartemen Malioboro City bakal dilelang melalui aplikasi lelang dengan penawaran tertutup (closed bidding) yang ada di laman lelang.go.id.

Disebutkan, satu bidang tanah dan bangunan hotel dan condotel Malioboro City seluas 8.425 meter persegi atas nama PT Inti Hosmed dilelang. Harga limit Rp 133 miliar dengan uang jaminan Rp 60 miliar.

Tanah kosong di sekitar bangunan seluas 7.686 meter persegi juga turut dilelang. Dengan harga limit Rp 83 miliar dengan uang jaminan Rp 40 miliar. Pelaksanaan lelang Selasa (28/5) dengan batas akhir penawaran pukul 10.00 WIB.

Kuasa hukum para pembeli, Nur Jihad mengatakan, jika para pembeli sudah rela menanti sejak 2013 untuk proses pembangunan hingga selesai. PT Inti Hosmed menyampaikan, perjanjian jual beli melalui direkturnya, Hidayat.

Penyampaiannya dengan lisan maupun tulisan (tertuang dalam PPJB) yang menyatakan bahwa apartemen/kondotel Malioboro City dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh yang bersangkutan. Sehingga pihaknya memiliki kewenangan untuk mengikat para konsumen.

Kata Nur Jihad, Hidayat kala itu juga meyakinkan ke konsumen bahwa lahan yang digunakan untuk membangun Maliboro City tidak tersangkut sengketa. “Kami minta perusahaan menjelaskan soal kelanjutan kepemilikan kamar,” kata Jihad.

Dia berharap Pemkab Sleman dan BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Naaional) serta BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konaumen) serta Kepolisian memberikan perlindungan hukum pembeli apartemen. Para pembeli apartemen akan mempertahankan aset kepemilikan.

“Kalau pihak perusahaan menyalahi hukum, maka kami juga menyiapkan laporan dan gugatan. Termasuk akan melaporkan ke polisi,” tegas Jihad.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) DIJ, Rama A Pradipta mengatakan, dalam kasus wanprestasi ini yang paling dirugikan konsumen. Sebab sudah memenuhi kewajibannya.

“Pemrakarsa tidak ada keterbukaan terhadap konsumen,” kata Rama, Senin (27/5).

Dikatakan, PT Inti Hosmed sudah dua tahun tidak aktif sebagai anggota REI DIJ. Sehingga dalam kasus ini dia melihat sebagai ketidakprofesionalan pihak pemrakarsa.

Dia mengimbau konsumen jeli berinvestasi. Tidak mudah tergiur nilai investasi. “Juga dicek dari pihak pemrakarsa, bagaimana sejarahnya, bagaimana track record-nya,” kata Rama. (har/iwa/zl)