BANTUL – Desa tangguh bencana (destana) dapat dibangun dengan inisiasi masyarakat. Caranya dengan memanfaatkan dan memberdayakan potensi.

Hal itu disampaikan Dr. Surwandono saat Seminar Pengabdian Masyarakat Kamis (23/5). Seminar ini kerja sama Magister Hubungan Internasional UMY dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kadirojo, Palbapang, Bantul.

Surwandono menekankan, tiap wilayah yang rentan sebenarnya memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana. Juga dapat melakukan pemulihan. Sebab, masyarakat adalah pelaku utama dalam manajemen bencana.

”Membangun dengan memobilisasi sumber daya lokal. Dilakukan secara partisipatoris, bersifat inklusif, berlandaskan kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan gender menjadi prinsip-prinsip utama dalam membangun destana,” ujarnya.

”Jika hal ini telah tersedia, maka kemitraan dan kerja sama dengan lembaga pemerintah maupun nonpemerintah menjadi penguat bagi terwujud dan lestarinya sebuah destana,” sambungnya.

Ratih Herningtyas, narasumber lainnya memberikan contoh bagaimana Jepang mampu membangun ketangguhan menghadapi bencana melalui penguatan tiga aspek. Yaitu, pengetahuan, nilai dan norma, serta tindakan. Pengetahuan, contohnya, sebagai modal memahami siklus bencana, kondisi dan sumberdaya yang dimilikinya, serta proses manajamen bencana dan lembaga terkait.

“Inilah sebabnya, kami menggandeng Pimpinan Ranting Muhammadiyah yang secara organisasi telah tertata, memiliki standar nilai dan norma, serta memiliki tindakan aksi dalam pemberdayaan masyarakat untuk menginisiasi destana mandiri. Tinggal membangun pengetahuan yang komprehensif tentang bencana dan manajemennya, maka destana akan bisa diwujudkan dalam waktu yang singkat, tambahnya. (*/a11/zam/fj)