Program pertukaran pelajar Youth Exchange & Study (YES) 2018-2019 yang disponsori Pemerintah Amerika Serikat sedang berlangsung. Afina Azka Latifanisa, salah satu peserta dari Jogja ditempatkan di West Jordan, Utah. Ramadan ini dia di sana. Dia berbagi kisah dengan Radar Jogja.

MIFTAHUDIN, Jogja

Bagi Afina, berpuasa di Amerika Serikat terasa menantang. Durasi puasa di Utah lebih lama dari di Indonesia, yaitu sekitar 16 jam. Puasa dimulai dari sekitar pukul 4.30 pagi hingga pukul 8.30 malam.

Biasanya dia menggunakan aplikasi smartphone seperti “Islam pro” untuk mengetahui waktu makan sahur dan waktu berbuka puasa.

Untuk sahur, menu makanan yang dia santap 50 persen terdiri dari sayur atau buah seperti apel, jeruk, melon atau pisang. Sedangkan  20 persen terdiri dari karbohidrat (nasi/roti/sereal), 20 persen air putih dan susu. “Berbeda dengan sahur di Indonesia yang lebih banyak mengandung karbohidrat,’’ ujarnya.

Dengan memperbanyak sayur dan buah membuatnya lebih bertahan dan tidak mudah lapar dan haus. Untuk berbuka, menu makan dia menyesuaikan dengan menu yang dibuat oleh keluarga angkatnya (host family).

Afina tinggal bersama keluarga angkat (host family). Dia merasakan dukungan dari host family selama Ramadan ini. Mereka adalah anggota church of Jesus Christ of LDS. Jadi mereka pun melaksanakan puasa walaupun teknis dan waktu pelaksanaanya berbeda.

Dengan begitu, mereka sudah paham arti dari puasa itu sendiri. Selama Ramadan pun, orangtua angkat Afina berusaha menemani berpuasa. Terkadang apabila ada perayaan ulang tahun atau perayaan lainnya, mereka berusaha mengubah waktu menjadi malam hari menunggu saat berbuka.

“Di sekolah pun, saya merasakan teman-teman yang tidak berpuasa menghargai saya,’’ tambahnya. Kebetulan di sekolah ini selai Afina juga ada siswa lokal yang beragama Muslim. Terkadang mereka ke perpustakaan bersama di waktu makan siang.

Di Utah, ada beberapa komunitas Muslim, seperti Utah Islamic Center, Khadeeja Mosque, dan Al Mustafa Foundation of Utah. Dia bersyukur karena tempat tinggalnya cukup dekat dengan Islamic center. Kurang lebih 20 menit.  Dengan begitu, cukup mudah untuk ikut berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan.

Sebagai Muslim di Negara bagian Utah, dia menemukan budaya Islam yang unik. Berbeda dengan komunitas muslim di tempat asalnya di Jogjakarta. Dalam menyambut Ramadan komunitas Muslim Utah menghias rumah mereka selayaknya kaum Nasrani menjelang Natal. Hal itu merupakan salah satu asimilasi Islam dan budaya Amerika.

Afina juga aktif sebagai volunteer. Membantu guru-guru di Utah Islamic Center untuk mengajar murid-murid Sunday School, atau biasa kita kenal di Indonesia sebagai Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Khususnya mengajar adik-adik kelas 1 SD. Selain mengajar Sunday School, dia terlibat di beberapa kegiatan pelayanan (service and volunteer) bersama mereka.

Hal lain yang unik di sini, mukena atau pakaian salat adalah bukan bagian dari budaya keagamaan. Kebanyakan para perempuan salat tanpa mengenakan mukena. Pernah suatu ketika dia akan salat di Islamic Center. Dia pun bertanya apakah ada mukena yang bisa dipinjam. Lalu, rekannya Aminah pun menjawab“Oh, you need the Indonesian thing? Yeah, we have one.”Rasanya lucu sekali mereka menyebut mukena sebagai “The Indonesian thing,”kata Afina.

Tantangan yang di hadapi saat puasa di Utah adalah untuk menjalani semua aktivitas yang sama seperti hari non-Ramadan tanpa pengurangan. Contohnya, di sekolah, dia memiliki jadwal kelas Yoga dan berenang di siang atau pagi hari. Kedua, saat jam makan siang godaan harum makanan di cafeteria juga cukup menantang.

“Namun, dengan semua tantangan ini, ibadah Ramadan saya menjadi lebih terasa bermakna,’’ jelasnya.(din/rg)