BANTUL – Profesi apoteker di masyarakat masih kalah populer dibandingkan dokter atau perawat. Untuk itu dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ingenida Hadning, M.Sc., Apt., Dr. Bangunawati Rahajeng, M.Si., Apt., dan M. Fariez Kurniawan, M.Farm., Apt., Pinasti Utami, M.Sc., Apt. melakukan kegiatan masyarakat tentang pengenalan profesi apoteker. Sasarannya siswa SMA di Kabupaten Bantul. Melalui lomba keterampilan kefarmasian.

Ingenida merasa untuk menyempurnakan pembinaan pendidikan kesehatan dan pelayanan tersebut perlu adanya apoteker cilik. Yang nantinya bisa berdampingan dengan dokter kecil. “Sehingga dapat menciptakan suasana sehat di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah,” katanya.

Peran apoteker cilik berguna mengenalkan kegiatan kefarmasian kepada siswa SMA. Juga untuk melatih softskill dan menambah pengetahuan siswa dalam dunia kefarmasian. “Jadi kami berharap mereka paham dengan profesi apoteker,” kata Ingenida sebagai ketua pengabdian ini.

Pengabdian masyarakat ini bermitra dengan organisasi profesi Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia Kabupaten Bantul dan Indonesia Young Pharmacist Groups DIY. Sudah dilaksanakan di Kampus Terpadu UMY senin (27/5) . Terbagi, pertama adalah pengenalan pekerjaan apoteker di berbagai tempat kerja. Kedua adalah kunjungan ke laboratorium farmasi dan praktik pembuatan obat sederhana yaitu hand sanitizer. Ketiga adalah lomba cerdas cermat.Terdapat 35 orang siswa dari 7 SMA di Kabupaten Bantul yang mengikuti lomba cerdas cermat ini.

Kenapa menyasar usia SMA? Menurut dia karena saat yang krusial untuk memutuskan profesi kemudian hari. “Diharapkan melalui acara ini, semakin banyak siswa SMA yang tertarik untuk melanjutkan kuliah di Prodi Farmasi untuk menjadi apoteker kelak di kemudian hari,” tuturnya. (**/pra/er)