JOGJA – Menjawab tantangan revolusi industri 4.0 pada bidang pertanian, kini hadir Sistem Monitoring Kontrol Irigasi (Simonkori). Cara kerja sistem tersebut dengan memanfaatkan teknologi informasi di tahapan proses pertanian dari proses pembibitan hingga panen.

Pembina SimonKori Anton Yudhana PhD menjelaskan, SimonKori fokus pada pengelolaan kebun hidroponik yang efektif dan efisien. Untuk meningkatkan hasil panen baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut dia, pertanian hidroponik semakin menarik minat petani sehingga perlu modifikasi alat dan penggunaan aplikasi yang mempermudah petani.

“Dengan fitur kontrol yang canggih dan sangat praktis. Dengan menggunakan SimonKori penggunaan kebun hidroponik akan menjadi semakin mudah dan teratur. Kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit?” tuturnya di Kantor Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), kampus 1, Jalan Kapas No.9, Semaki, Jogja, Jumat (24/5).

Menurut dia, hal terpenting adalah pengukuran suhu, kelembaban ruangan, nutrisi, PH air, dan pencahayaan. SimonKori, jelas dia, adalah smart farming solution. Simonkori memiliki fitur kontrol pompa air tandon, pompa PH, pompa pencampuran zat A, zat B, pengaturan suhu ruang.

“Produk utama dari SimonKori adalah sistem otomatisasi dan pemantauan kebun hidroponik secara online dan realtime berbasis Internet of Things (IoT), bisa dikendalikan dari jarak jauh dan sangat akurat. Sistem ini memiliki manfaat, efesien, hemat energi, meningkatkan hasil panen, dapat menganalisia kebun, membuat data lengkap dan konkret, terkoneksi dengan internet,” papar Anton.

Kepala Bimawa UAD Dr Dedi Pramono MHum memberikan apresiasi kepada mahasiswa UAD yang tergabung dalam tim SimonKori. Simonkori adalah startup yang bergerak dalam bidang pertanian khususnya pertanian hidroponik karya mahasiswa UAD. “Mewakili kampus, kami merasa bangga karena Program KreativitasMahasiswa (PKM) berhasil memiliki paten dan berkembang PT Jogja Media Inovasi (JMI),” katanya.

Kabid Pengembangan Kemahasiswaan Bimawa Danang Sukantar MPd menambahkan UAD senantiasa mendorong mahasiswa melakukan inovasi dan memberi solusi dan manfaat langsung bagi masyarakat. “Pada 2017 tim mengajukan skema CPPBT (calon perusahaan berbasis teknologi) yang diselenggarakan oleh ristek dikti. Dari 1.544 pendaftar hanya 150 startup saja yang kemudian mendapatkan pendanaan, salah satu yang berhasi medapatkan pendaan adalah SimonKori, jumlah dana yang diterima adalah Rp 169 juta,” jelasnya.

CMO Hendril Satrian menjelaskan inovasi aplikasi SimonKori mendapat respon positif dari petani hidroponik. Di antaranya Damar Hidro Farm Srumbung Magelang, petani hidroponik di Lumajang, Malang, dan Lampung untuk pertanian sayur-sayuran. Seperti selada, kangkung, dan stroberi. Saat ini produk simonkori tidak hanya berfokus pada pertanian hidroponik saja. Namun juga dapat diterapkan di berbagai lini. Di antaranya adalah pemantauan kualitas air tambak udang, tambak ikan air tawar, dan sistem vertilisasi untuk pemberian nutrisi pada kebun buah.(*/a11/pra/er)