SLEMAN – Musim mudik Lebaran 2019 sudah mulai tampak. Kepadatan arus lalu lintas terjadi di beberapa ruas jalan utama di DIJ. Kabid Lalu Lintas, Dinas Perhubungan Sleman Sulton Fatoni mewanti-wanti para pengusaha angkutan barang untuk mematuhi aturan mudik. Merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 67/2019 tentang Pengaturan Lalu Lintas Masa Angkut Lebaran Tahun 2019.

Regulasi tersebut mengatur pembatasan operasional kendaraan angkutan berat dan jembatan timbang. Kendaraan angkutan berat dilarang melintas di jalan nasional dan tol pada puncak arus mudik maupun balik. Yakni pada 30 Mei pukul 00.00 hingga 2 Juni pukul 00.00. Berlanjut pada 8 Juni pukul 00.00 hingga 10 Juni pukul 00.00.

Pembatasan operasional berlaku bagi mobil angkutan barang bersumbu tiga atau lebih, mobil barang dengan kereta tempelan, kereta gandengan, serta mobil barang untuk bahan galian, tambang, dan material bangunan.

“Aturan itu dikecualikan untuk mobil pengangkut bahan bakar minyak, ekspor impor, air minum dalam kemasan, ternak, pupuk, dan kebutuhan pokok,” jelasnya, Kamis (30/5). Kendaraan pengangkut sepeda motor milik pemudik turut dikecualikan.

Sementara dalam rentang 3-7 Juni tak diatur secara spesifik dalam permenhub. Kendati demikian, Sulton melarang kendaraan angkutan berat melintas di jalur-jalur mudik Lebaran selama rentang waktu tersebut. Khususnya di ruas jalan kabupaten yang menjadi jalur alternatif.

Dia khawatir, pembatasan operasional kendaraan angkutan berat di jalan nasional berdampak kerusakan konstruksi jalan kabupaten. Ini yang menjadi fokus perhatiannya.

Bukan tidak mungkin sopir kendaraan berat mencari jalan alternatif untuk menghindari kepadatan ruas jalan nasional. Padahal konstruksi jalan kabupaten dirancang untuk menahan beban kendaraan dengan tonase maksimal 8 ton. Sedangkan kendaraan berat bisa lebih dari 8 ton.

Selain berpotensi merusak konstruksi jalan, arus lalu lintas di jalan kabupaten pun bisa terganggu. Padahal jalan kabupaten diprioritaskan untuk memecah kepadatan arus lalu lintas di jalan-jalan protokol. “Jalan kabupaten itu kan jalan kelas III. Hanya untuk tonase maksimal 4-8 ton,” ungkap Sulton.

“Tentu semua ingin nyaman selama perjalanan mudik. Kalau jalan rusak kan semua rugi. Penanganannya juga tidak bisa cepat,” tambahnya.

Sulton memprediksi peningkatan arus mudik di wilayah DIJ terjadi mulai besok Sabtu (1/6). Dengan asumsi para pemudik dari Jakarta berangkat nanti sore. Baik pemudik dengan kendaraan pribadi maupun moda transportasi umum.

Sementara itu, Kasi Pengelolaan Terminal, Balai Pengelolaan Terminal dan Perparkiran, Dinas Perhubungan DIJ Yunarti mengatakan, kedatangan pemudik dengan bus umum rata-rata 600 orang per hari. Terjadi sejak Senin (27/5) hingga Rabu (29/5). Itu berdasarkan informasi yang dia terima dari agen-agen bus malam. “Sebagian pemudik dari daerah Jawa Timur. Yang dari Jakarta belum ada lonjakan,” katanya.

Lonjakan penumpang bus malam justru bagi pemudik dari Jogjakarta. Pada Senin (27/5) terpantau sedikitnya 1.861 penumpang berangkat dari Terminal Jombor, Sleman. Selang sehari terdapat 1.863 penumpang. Dan kemarin meningkat lagi. Ada 1.941 pemudik.

Mahalnya harga tiket pesawat ditengarai menjadi penyebab lonjakan penumpang moda transportasi darat. Khususnya bus. Apalagi tiket kereta api biasanya sudah ludes jauh-jauh hari sebelum musim mudik. “Kami perkirakan ada peningkatan 5 persen pemudik dengan bus tahun ini,” ujar Kabid Pengendalian dan Operasional, Dinas Perhubungan DIJ Harry Agus Triono.

Selain faktor tiket pesawat dan kereta api, beroperasinya Jalan Tol Trans-Jawa turut berpengaruh pada lonjakan penumpang bus. Karena waktu tempuh menjadi lebih singkat. Perjalanan juga relatif lebih lancar dibanding lewat jalan umum. “Penumpang bus juga tidak dibatasi barang bawaannya. Ketika mudik kan biasanya penumpang ingin membawa banyak barang bawaan,” lanjutnya.

Demi kenyamanan penumpang bus, pengawasan di terminal pun diperketat. Pun soal kemungkinan terjadi kenaikan harga tiket di luar batas kewajaran.

Terpisah, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto Agus Pandu Purnama membenarkan adanya penurunan flight maupun jumlah penumpang pesawat. Setidaknya berdasarkan pantauan pada H-7 Lebaran (Rabu, 29/5). Total hanya ada 166 penerbangan baik rute domestik maupun internasional. Turun 12,17 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 189 penerbangan.

Sedangkan jumlah penumpang pada H-7 Lebaran 2018 tercatat 25.555 orang. Sementara pada rentang waktu yang sama tahun ini tercatat 22.264 penumpang. Menurun 12,88 persen dibanding tahun lalu.

Menurut Agus Pandu, penurunan jumlah penumpang pesawat karena banyak faktor. Di antaranya, keberadaan Jalan Tol Trans-Jawa dan banyaknya pilihan moda transportasi darat. (har/yog/rg)