Mengatasi masalah tanpa masalah. Pegadaian selalu menjadi tempat jujukan masyarakat yang membutuhkan dana cepat. Terlebih untuk keperluan Lebaran. Namun, ada juga yang datang untuk sekadar menitipkan barang berharga sebelum ditinggal mudik.

WINDA ATIKA IRA PUSPITA, Jogja

SUASANA kantor Pegadaian Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja hari itu tampak beda. Lebih ramai dibanding hari-hari biasa. Pengunjung antre dengan tertib. Satu per satu menuju loket layanan. Bergantian. Ada yang membawa barang untuk “ditukar” uang. Ada pula sebaliknya. Membawa uang untuk menebus barang yang “dititipkan”. Khusus barang tebusan biasanya berupa perhiasan emas. Ya, sudah menjadi hal lazim bagi masyarakat Jogjakarta memakai perhiasan emas saat berlebaran. Tentu saja untuk menunjang penampilan mereka. Perhiasan itu biasanya akan digadaikan lagi selesai Lebaran. Untuk modal usaha. Fenomena itu seolah telah menjadi tradisi tiap musim Lebaran.

Tak pelak, transaksi di pegadaian pun meningkat. Pegadaian Ngupasan mencatat peningkatan transaksi tebusan sebesar 40-50 persen. Dibanding hari biasa. “Sejak Senin (27/5) sudah banyak yang menebus barang. Mungkin sudah terima tunjangan hari raya. Biasanya perhiasan,” ujar Kepala Kantor Cabang Pegadaian Ngupasan Yuneni Fatma kepada Radar Jogja beberapa waktu lalu.

Kondisi sebaliknya justru pada awal Ramadan. Banyak nasabah menggadai barang. Transaksi gadai pun meningkat 20-30 persen. Terjadi sejak awal bulan puasa hingga Sabtu (25/5). Yuneni menengarai karena saat itu banyak pendatang di Kota Jogja yang butuh biaya untuk pulang kampung. Makanya mereka gadaikan barang berharga. Untuk mendapatkan uang tunai. Ada juga yang gadai barang untuk modal jualan takjil.

Selain perhiasan, barang elektronik menjadi komoditas paling sering digadaikan. Sebagai jaminan. Dulu, Kantor Cabang Pegadaian Ngupasan sering juga menerima jarik batik tulis langka. Namun kini tidak lagi. Mungkin karena kecilnya nilai gadai kain batik. “Mungkin sudah lima sampai sepuluh tahun tak ada yang gadai jarik. Nilai gadainya paling cuma Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Menurut Yuneni, nasabah menggadai jarik biasanya hanya untuk kebutuhan konsumsi. Beda dengan nasabah pada umumnya saat ini. Yang lebih membutuhkan dana segar dalam jumlah besar. Untuk modal usaha. “Memang sudah ada pergeseran. Gadai barang bukan lagi untuk konsumsi. Tapi kebutuhan yang lebih besar lagi,” tuturnya. (yog/tif)