SLEMAN – Udara dingin khas pegunungan menyelimuti kawasan lereng Merapi Rabu pagi (5/6). Cuaca pagi itu juga nampak cerah dengan sedikit kabut. Sehingga di sisi utara Merapi nampak gagah.

Sementara itu, ratusan warga yang bertempat tinggal di sekitar lereng Merapi sejak pukul 06.00 sudah mulai datang ke Lapangan Stiper yang terletak di Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan. Mereka hendak melaksanakan salat Idul Fitri.

Lapangan Stiper yang digunakan untuk salat hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Masih dalam radius aman tiga kilometer yang ditentukan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Udara dingin tidak mengurangi kekhusyukan para jamaah saat salat. Bahkan dengan latar Gunung Merapi nuansa menyatu dengan alam semakin terasa. Inilah potret asli masyarakat Merapi yang hidup berdampingan dengan alam.

Pemandangan lain adalah disiapkannya empat kendaraan jenis truk. Kendaraan itu disiagakan di sebelah timur lapangan dengan arah menghadap jalan. Wajar saja, kondisi Merapi saat ini masih dalam status waspada sejak satu tahun yang lalu. Ditambah Dusun Kalitengah Lor masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3.

”Kami kan tinggal di wilayah rawan bencana, jadi setiap ada kegiatan yang melibatkan masyarakat harus ada armada. Selain empat unit kendaraan di rumah-rumah warga juga ada armada truk yang standby,” jelas Kepala Desa Glagaharjo Suroto.

Lebih lanjut, Suroto mengatakan dengan kondisi Merapi yang masih level waspada pihaknya selalu mengimbau agar masyarakat selalu siap siaga. Agar ketika terjadi sesuatu masyarakat langsung sigap. ”Kan memang sering luncuran. Tapi ini lava pijar. Masyarakat di sini sudah terbiasa,” bebernya.

Kendati demikian, intensitas luncuran lava pijar dan awan panas belakangan ini sering terjadi. Sehingga pihaknya meminta agar semakin meningkatkan kesiagaan.

Salat Idul Fitri di sana juga dihadiri oleh tokoh-tokoh forum kerukunan umat beragama (FKUB) Cangkringan. Selain itu warga dari luar Sleman juga ikut. ”Ada dari Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul itu yang Sleman dan Sambungrejo dan Banjarsari yang dari Klaten,” kata Ketua Panitia Hari Besar Islam (KPHI) Glagaharjo Slamet Ahmad.

Slamet mengatakan, setiap Idul Fitri memang selalu dilakukan di lokasi tersebut. Kendati demikian di berbagai lokasi di Desa Glagaharjo juga melaksanakan salat Idul Fitri. ”Kalau di sini (Lapangan Stiper) memang lebih ramai karena ada yang mudik,” ucap Slamet.

Selepas salat, lantunan salawat berkumandang. Selain itu, masyarakat yang hadir lantas berjabat tangan sebagai bentuk untuk merekatkan tali silaturahmi. (har/ila)