BANTUL – Ratusan kendaraan, roda dua dan empat, terjebak di Jalur Cinomati. Penghubung ke Mangunan, Dlingo, Terong, dan objek wisata Becici, Mungker, Pengger, Watu Amben, dan Srigetuk, maupun ke pantai Baron.

Pantauan Radar Jogja (6/6) beberapa mobil dan motor tidak kuat menanjak. Sudut tanjakan cukup ekstrem sekitar 45 derajat.

Kendaraan yang didominasi pelat nomor luar daerah berhenti di tengah tanjakan. Relawan berseragam oranye dan polisi sigap membantu pengendara.

Ada yang mengambil alih menjadi sopir, maupun mengganjal kendaraan menggunakan batu. Kemudian didorong ke atas. Kendaraan roda dua pun sama. Para relawan, gabungan SAR dan Polsek Pleret, Bantul menahan kendaraan pemotor yang tidak kuat menaiki tanjakan Cinomati.

Lusi, asal Jakarta, penumpang mobil pribadi, mengatakan, terjebak ke Cinomati karena mengikuti Google Maps. “Tidak tahu kalau ada tanjakan seperti ini,” tuturnya.

Disamping itu, Ebi, pemotor asal Semarang, mengaku baru kali pertama melintasi Cinomati. Dia pun mengikuti arah dari Google Maps. “Gak tau, hanya ngikutin maps saja,” tandasnya.

Kapolsek Pleret, AKP Sumanto mengatakan, sejak pagi sampai sore banyak kendaraan yang tak kuat menanjak. Dua hari setelah Lebaran arus lalu lintas (lalin) di Cinomati meningkat.

“Ini belum seberapa. Biasanya, mendekati Sabtu-Minggu akan semakin banyak lagi (yang terjebak di Cinomati),” kata Sumanto.

Dikatakan, kebanyakan wisatawan yang melintas Cinomati mengikuti Google Maps. Sehingga banyak yang gagal naik karena belum tahu medan dan tidak terbiasa melewati lokasi tersebut.

“Kami di sini membantu mengganjal atau mendorong kendaraan demi kelancaran wisatawan yang mau mengarah ke Dlingo,” kata Sumanto.

Ada empat pos pantau di Cinomati. Yakni Pos Cegokan, Pos Baer, Pos Bunderan HI, dan Pos Terong. Pada hari-hari biasa, tidak ada masalah. Karena warga sudah terbiasa dengan medan Cinomati.

“Kalau kita tidak dirikan pos pantau seperti ini di jalur Cinomati saya kira kecelakaan akan bertambah. Jalur ini termasuk singkat kalau mau ke Gunungkidul,” kata Sumanto.

Dia mengimbau pengendara ke Dlingo mentaati arahan petugas lapangan. Seperti mematikan AC dan menggunakan persneling atau gigi satu saat menanjak.

Posko pantau akan berakhir H+7 Lebaran. Relawan dan petugas disiagakan 24 jam di lokasi. (cr15/iwa/fj)