JOGJA – Mencari Asisten Rumah Tangga (ART) pada hari biasa cukup sulit. Apalagi saat libur Lebaran seperti sekarang ini. Bagaimana seluk beluk ‘’perburuan’’ ART di saat Lebaran?

AHMAD SYARIFUDIN, Jogja

Salah seorang penyalur tenaga kerja, Amaliyatul Ulya, tahu betul sulitnya mencari ASN yang mau dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.

Berbeda dengan tenaga kerja jenis home care yang justru membeludak namun permintaan rendah. “Harus mengantre untuk mendapatkan pekerjaan jenis home care,” kata Ulya.

Menjelang Lebaran, kantor yang dikelola Ulya dipenuhi para pekerja yang sedang menunggu. Tidak hanya di dalam, ada juga yang duduk di emperan luar kantor. Beberapa calon pekerja, membawa serta anak mereka sambil bermain atau sekadar duduk santai.

Beberapa pegawai sibuk bercakap-cakap dengan pelanggan. Ada pula yang sedang berkutat dengan banyak dokumen. Pada libur Lebaran, memang mereka harus bekerja lebih keras dari biasanya. Guna memenuhi kebutuhan para keluarga yang membutuhkan tenaga pengganti (infal). Karena tenaga reguler pulang kampung.

Puluhan tenaga infal ditempatkan ke berbagai daerah oleh Ulya. “Sejauh ini, sudah ada 40 orang. Dan terus bertambah. Tahun ini cukup banyak. Beberapa penyalur se-Indonesia mengalami penurunan. Sekitar 50 persen,” jelas Ulya.

Dia melihat tenaga kerja ART semakin langka. “Mungkin karena pekerjaannya berat. Secara penghasilan relatif kecil,” kata Ulya.

Secara beban kerja, ART lebih fleksibel sehingga rawan dipekerjakan melebihi kemampuannya. Berbeda dengan tenaga home care yang semakin membeludak. Namun permintaannya sangat kecil.

“Sebenarnya, home care itu tanggung jawabnya lebih besar,” kata Ulya.

Walaupun hanya fokus pada seseorang, tenaga home care harus siap 24 jam jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Dia harus mengerti kondisi kesehatan pasien dan mengoperasikan alat kesehatan yang digunakan.

Sedangkan untuk jenis pekerjaan lain, relatif lebih berimbang antara permintaan dan penawaran. Mulai dari pendamping lansia, balita, bayi, anak, kebutuhan khusus, dan tenaga kebersihan. Secara umum, tenaga infal memang cukup diminati.

“Terutama bagi orang yang sangat membutuhkan uang. Penghasilannya bisa dua sampai tiga kali lipat daripada tenaga reguler. Setidaknya Rp 200 ribu per hari,” kata Ulya.

Salah seorang tenaga infal, Muhammad Mujib, bisa mengantongi Rp 250 ribu per hari. Tahun ini dia menerima pekerjaan infal home care di Jakarta selama 15 hari. Namun, dia harus rela tidak menikmati momen Lebaran bersama keluarga.

Sekalipun mendapat penghasilan tinggi, pekerjaan ini bukan tanpa risiko. “Sering, misalnya istrinya cerewet. Yang penting sabar,” jelasnya.

Dia mendampingi lansia yang memerlukan alat bantu tertentu. “Misalnya penderita stroke, itu saya bantu memantau kondisinya,” kata Mujib.

Selama 1,5 tahun Mujib telah melakoni pekerjaan ini. “Sebelumnya bekerja di pabrik. Sempat di restoran juga. Tempat tinggal dan makan ditanggung sendiri. Kalau home care, biaya tempat tinggal dan makan sudah include,” tutur Mujib. (iwa/fj)