JOGJA – Keberhasilan operasi angkutan lebaran tidak hanya milik manusia semata. Ada peran unit K-9 turut diterjunkan dalam operasi kali ini. Seluruhnya berjaga di posko, baik pos pengamanan jalan raya, pos stasiun kereta api dan pos pengamanan bandara.

Pada masa mudik lebaran lalu, anjing-anjing terlatih itu ikut ambil bagian. Salah satunya penjagaan di posko angkutan lebaran Stasiun Tugu. Memasang sikap sigap, anjing-anjing tersebut mengendus satu-persatu barang bawaang penumpang.

Dalam posko ini terdapat dua unit yang disiagakan. Kolaborasi antara Unit K-9 Ditsabhara Polda DIJ dan Unit K-9 Satpom AU Lanud Adisutjipto terlihat apik. Satu tim melacak barang bawaan, sementara tim lainnya menyisir gerbong dan kargo yang baru saja langsir.

“Kalau unit kami terdiri dari dua anjing jenis Malinois Belgia, sementara milik Satpom AU jenis Rotweiler dan Golden Retriever. Dua unit ini memiliki spesialisasi sama sebagai anjing pelacak bahan peledak,” jelas Kanit Polisi Satwa Ditsabhara Polda DIJ AKP Adi Purnomo Minggu (9/6).

Untuk menjadi seekor anjing pelacak, perlu perjuangan panjang. Setidaknya anjing mulai dilatih sejak usia masih muda. Tujuannya agar mudah mengenali perintah-perintah yang diberikan. Proses pelatihan pun bertahap.

Pria yang memiliki disiplin ilmu dokter ini menceritakan detailnya. Kedua Malinois Belgian milik Polda DIJ ini setidaknya sudah empat tahun belajar. Berawal dari perintah-perintah sederhana hingga pendeteksian bahan peledak.

Kunci utama dalam pelatihan adalah kedisiplinan. Layaknya seorang polisi, unit K-9 mendapatkan porsi latihan intens. Sehingga benar-benar bisa mendeteksi keberadaan bahan peledak. Dalam berlatih, anjing selalu berpasangan dengan sang pawang.

“Kalau yang dua ini sudah lebih dari empat tahun latihannya. Kalau dibilang latihan khusus enggak juga, tapi prinsipnya latihan rutin setiap hari,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Adi membantah kalau anjing pelacak adalah anjing agresif. Seperti anjing pelacak bahan peledak, justru cenderung kalem. Gerakan tidak agresif dan selalu menurut. Apabila menemukan bahan peledak lebih memilih duduk.

Berbeda dengan anjing pelacak narkotika, K-9 bahan peledak tidak akan menggaruk objek temuannya. Ini karena bahan peledak sangat rentan akan guncangan. Sehingga ketika menemukan akan langsung memberi tanda kepada pawangnya.

“Nah, duduk itu sebagai tanda kalau anjing menemukan bahan peledak. Kalau menggaruk malah bisa jadi pemicu. Itu juga sudah bagian dari pelatihan,” katanya.

Anjing-anjing seakan menjadi idola baru di Stasiun Tugu. Tidak sedikit penumpang yang lewat meminta foto bersama. Bahkan adapula yang mengelus-elus dada dan kepala anjing K-9 tersebut. Respon sang anjing, diam dan menikmati belaian dari para penumpang.

“Tetap bisa diajak main seperti anjing peliharannya biasa. Tapi bedanya memang lebih terlatih dan paham akan perintah,” jelasnya.

Sama halnya dengan unit Polda DIJ, K-9 milik Satpom AU juga mendapatkan latihan keras. Deteksi dini potensi bahan peledak menjadi fokus utama. Bisa dibilang metode latihan hampir mirip 100 persen. Karakter kedua anjing juga mirip, cenderung kalem dan jinak.

Danru K-9 Satpom AU Lanud Adisutjipto Serka Bambang Wahyu Royadi mengungkapkan setiap anjing memiliki karakter yang berbeda. Namun seluruhnya tetap bisa dilatih. Ini karena metode dari pelatihan menekankan kedisiplinan.

Untuk pengenalan awal, anjing perlu dilatih intens selama 6 hingga 12 bulan. Selanjutnya porsi latihan ditingkatkan secara bertahap. Khusus K-9 milik Satpom AU telah terbiasa bertugas. Terlebih kawasan bandara memiliki potensi ancaman yang cukup tinggi.

“Fungsinya antisipasi dan deteksi dini bahan peledak. Kalau spesialisasi ada juga yang pelacak narkotika. Apalagi pintu masuk bandara cukup rawan, terlebih adanya penerbangan internasional,” ujarnya.

Dia menjamin karakter anjing pelacak bahan peledak ini jinak. Beberapa kali sang komandan regu ini melayani permintaan swa foto kepada unit K-9 miliknya. Tidak hanya sekedar mendekat, namun penumpang juga bisa membelai.

“Tidak apa-apa kok, justru anjing-anjing ini friendly. Mereka senang kalau ketemu orang banyak. Kalau pas tidak sterilisasi bisa minta foto bareng,” katanya.(dwi/pra/er)