SLEMAN – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI akan mengambil langkah tegas pada pelepas balon udara liar. Data AirNav ada 14 laporan pilot, pada 4 hingga 8 Juni terkait balon udara.

Kasubdit Penyidik Pegawai Negeri Sipil Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Rudi Richardo menyebut balon udara ditemukan di wilayah udara Wonosobo. Terkait hal itu sudah dilakukan koordinasi dengan Polres Wonosobo. “Karena ini ranahnya sudah membahayakan transportasi massal,” tegasnya di Posko Angkutan Lebaran Bandara Internasional Adisutjipto Minggu (9/6).

Dia memastikan tidak ada toleransi. Terlebih sosialisasi telah berlangsung 2015. Acuan hukum yang digunakan dalam sanksi adalah Pasal 421 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Terkait pelanggaran tersebut, pelaku pelepasan balon udara liar bisa dikenai sanksi pidana kurungan tiga tahun. “Masalahnya setiap tahun pasti terulang, sehingga memang tindak tegas dengan menyeret ke ranah pidana. Sosialiasi dirasa sudah cukup,” katanya.

General Manager Airnav  Bandara Adisutjipto Jogjakarta Nono Sunarhadi mengakui kawasan Wonosobo menjadi perhatian utama. Ini karena kawasan tersebut menjadi perlintasan pesawat dari Jakarta menuju DIJ.  Setidaknya ada dua rute, baik melalui Cilacap maupun Indramayu dan Cirebon.

“Wonosobo itu jalur padat penerbangan. Temuan balon udara itu sampai 30 ribu kaki, sementara ketinggian pesawat di wilayah itu kisaran 25 ribu hingga 29 ribu kaki. Jelas sangat membahayakan, apalagi jika sampai tersedot ke mesin pesawat,” jelasnya.

Nono menegaskan balon udara sangat berbeda dengan pesawat. Ketinggian dan arah terbang tidak bisa diprediksi. Pesawat tidak bisa mengelak secara mendadak apabila ada balon udara didepanya. Dia mengibaratkan objek terbang ini layaknya ranjau di udara.

“Balon ini tidak terpantau radar hanya pengamatan mata telanjang. Padahal kecepatan pesawat itu tinggi, jadi tidak bisa menghindar seperti naik kendaraan biasa,” katanya.

AirNav sendiri telah memfasilitasi dalam sebuah festival balon udara. Setiap objek terbang dibatasi memiliki lebar maksimal empat meter dan panjang tujuh meter. Setelahnya diikat dengan tali dengan maksimal ketinggian terbang 150 meter. (dwi/cr6/pra/er)