JOGJA – Pada 7 Juni 2019 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja genap berusia 72 tahun. Berbagai tantangan dan harapan sudah menanti jajaran Pemkot Jogja. Yang paling ditunggu adalah pembangunan fisik dan non fisik di Kota Jogja.

Beragam capaian positif sudah ditorehkan jajaran Pemkot Jogja. Yang fenomenal di antaranya karena berhasil meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) laporan keuangan selama 10 kali berturut-turut. Mulai dari 2009 hingga 2018 Pemkot Jogja selalu meraih opini WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan.

“Ini menunjukan jika kinerja Pemkot Jogja sudah on the track dan konsisten,” ujar Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi kemarin.

Meskipun begitu HP meminta para aparatur sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Jogja jangan berpuas diri dengan berbagai capaian dan penghargaan yang diraih. HP menyebut masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Di antaranya di era digital dan serba internet, membuat ASN dan masyarakat juga harus bersiap dengan revolusi industri 4.0.

Persoalan lain terkait dengan tingkat ketimpangan. “Gini rasio kita masih tinggi, itu harus dipecahkan bersama-sama. Supaya nilainya terus turun,” katanya.

Upaya tersebut sudah mulai dirintis Pemkot Jogja dengan memprioritaskan pembangunan berbasis kampung dan keluarahan. Saat ini anggaran yang digelontorkan untuk kegiatan di kelurahan, rerata mencapai Rp 1 miliar. Itu dari anggaran untuk lembaga pemberdayaan masyarakat kelurahan (LPMK), kecamatan hingga dari sektoral.

Pemkot Jogja juga masih memiliki PR untuk penggunaan anggaran yang menggunakan pendekatan prioritas. “Bukan rotonitas (dibagi rata), tapi ada skala prioritas sehingga hasilnya kelihatan,” tuturnya.

Karena itu yang terus dikerjakan adalah sinkronisasi organisasi perangkat daerah (OPD). Tidak ada lagi anggaran dari OPD ke masyarakat tapi berjalan sendiri-sendiri. “Kami sudah coba dengan Do It Kampung, sinergi OPD dan nantinya kami buat aplikasi SIM Warga,” jelasnya

Selain itu juga dengan menelurkan program Gandeng Gendong. Yang melibatkan 5K, yaitu korporasi (perusahaan swasta), kampus, kampung, komunitas yang bersama Kota (Pemkot) Jogja.

Melalui Gandeng gendong, pelaku usaha dilatih untuk meningkatkan kualitas usahanya. Seperti kuliner, kata HP, pelaku usaha dilatih untuk membuat produk yang higienis, bersih dan sehat. Tak cukup di situ, mereka juga dilatih membuat produk yang laku di pasaran.

“Kerjasama dengan chef untuk memproduksi kuliner yang enak, sedap dipandang dan laku dijual di pasaran,” ungkapnya.

Langkah selanjutnya yang dilakukan, kata HP, untuk pemasaran produknya. Karena itu tahun ini Pemkot Jogja sudah merencanakan untuk banyak menggalar bazar sebagai display dan lapak penjualan produk UMKM dan industri kreatif di Kota Jogja.

“Penjualan juga secara online, dengan fitur Nglarisi dan Dodolan Kampung di Jogja Smart Service (JSS),” jelasnya.

Mantan wartawan itu juga menyebut fokus pembangunan Kota Jogja, terkait fisik dan non fisik. Melalui program Gandes Luwes, Pemkot Jogja ingin membangun karakter warga kota yang Njogjani, sesuai dengan Keistimewaan DIJ.

Itu sudah dimulai dengan pembenahan fisik bangunan di lima kawasan cagar budaya di Kota Jogja. Dimulai dengan mengambalikan fasad atau tampilan muka bangunan, sesuai dengan karakter kawasan cagar budaya.

“Bangunan lama maupun baru yang akan dibangun juga harus menyesuaikan,” ungkapnya. Kemudian juga pembangunan gapura penanda wilayah, HP meminta bentunya yang khas Jogja.

Bagaimana dengan pembangunan non fisik? HP mencontohkan seperti petugas Jogo Boro di Malioboro yang akan diarahkan untuk memakai pakaian khas Jogja. Itu untuk memperkuat karakter budaya.

“Harapannya nanti juga di hotel dan pegawai di instansi yang melayani masyarakat dan wisatawan juga bisa memakai busana khas Jogja,” ungkapnya.

Tak hanya sekedar tampilan fisik. HP juga meminta nantinya ada muatan local di sekolah, mulai dari SD hingga SMA di Kota Jogja yang mengajarkan budaya Jogja. Itu bisa menjadi kompetensi siswa Jogja. Seperti, siswa yang lulus sekolah harus menguasai tembang tertentu.

‘”Untuk menunjukan karakter spiritual Jogja, yang religious dan berbudaya,” tuturnya. (**/pra/er)