MAGELANG – Banyak ragam kuliner di tanah Jawa. Satu yang lagi digemari adalah Kriukan Watu Tumuk. Kulineran yang berpusat di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah ini menawarkan banyak penganan tradisonal.

Kuliner khas Watu Tumpuk memang beda. Berbagai produk tradisonal favorit ada di sini. Kuliner rumahan ini, antar lain ada clorot, megono, kue thok, peyek kacang tanah, peyek kacang hijau, peyek kedelai hitam, peyek kedelai kuning, peyek rebon, peyek sayur, peyek petho, unthuk cacing, penthil kucing, jet kolet, kacang bawang, kacang telor, mete, bumbu pecel, wajik ketan hijau, jenang lot, krasikan, kue sledri, keripik pare, gendar goreng, wedang jahe, wedang uwuh, telor asin, emping mlinjo, krecek sapi, rengginan, hingga balado kering kentang.

Marketing Watu Tumpuk Group, Dwi Yogo Mardiyanto mengatakan, semua produk Watu Tumpuk menjadi favorit. “Semua favorit,” kata Yogo dengan penuh percaya diri.

Menurutnya, produk Watu Tumpuk sudah teruji sejak pengambilan bahan baku, proses produksi, hingga pendistribusiannya. “Sistem pemasarannya sangat simpel, yang paling utama rawat silaturrahim dengan semua orang,” ungkapnya.

Yoga tinggal di Borobudur Magelang. Dalam mengembangkan bisnis Watu Tumpuk Group, Yoga menghimpun usaha rumahan dari warga sekitar. Sejauh ini, pasarnya, selain di wilayah Borobudur, Magelang dan sekitarnya, juga sudah berkembang di Jogjakarta, dan merambah di beberapa kota di Indonesia. ”Khusus untuk pasar Jogjakarta, kami distribusi setiap hari,” katanya.

Untuk pemasaran, jika sebelumnya hanya dengan konfensional, saat ini sudah merambah ke dunia media sosial, utamanya melalui WA. “Pembeli dari jauh dapat hubungi saya lewat 081328638561,” imbuh Yogo mantap.

Selain memasok di toko-toko dan agen, Kriukan Watu Tumpuk juga langsung berinteraksi dengan para pelanggan. “Motivasi utama dari Watu Tumpuk adalah mengangkat kearifan lokal, dan mempertemukan kegembiraan antara produsen dengan konsumen,” tandasnya.

Saat ini, usaha kuliner Kriukan Watu Tumpuk sudah bukan musiman lagi, namun telah berjalan sehari-hari. Omsetnya juga sudah sangat besar. “Satu minggu rata-rata terdistribusikan 1,5 kwintal aneka kriukan. Dengan omset ini, tentu menggembirakan,” kata Yogo yang merupakan inisiator sekaligus marketing. (**/jko)