JOGJA – Peningkatan omzet tidak hanya terjadi di kawasan Malioboro. Sejumlah sentra oleh-oleh lainnya juga panen berkah lebaran. Setidaknya omzet momentum bisa meningkat dua hingga sepuluh kali lipat dibanding hari biasa.

Marcom Manager Dagadu Djokdja Sugistiarini Fidia menuturkan peningkatan mencapai 70 persen. Hanya saja acuan yang digunakan adalah kunjungan pembeli ke gerai. Jumlah pembeli harian bisa mencapai 800 orang.

“Itu angka rata-rata untuk masa awal libur lebaran hingga 9 Juni. Tapi kalau puncaknya 8 dan 9 Juni kemarin bisa sampai 1.000 pembeli perharinya. Kalau pembelian item rata-rata tidak hanya membeli satu,” jelasnya ditemui Yogyatourium Gedongkuning Senin (10/6).

Untuk segmen pembeli merata disemua usia. Sementara untuk asal didominasi oleh pembeli dari Jawa Timur dan Jakarta. Sementara untuk pembeli dari luar pulau Jawa hanya dalam porsi kecil. Pembelian didominasi item jenis kaos oblong dan pernak pernik.

“Untuk harga beragam tergantung itemnya. Pernak-pernik ada yang Rp 10 ribu kalau kaos ada yang sampai Rp 129 ribu. Rata-rata yang datang rombongan keluarga,” katanya.

Peningkatan omzet juga terjadi di sektor kuliner. Wakil Direktur Produksi Gudeg Kaleng Bu Tjitro 1925 Jumirin mengungkapakan ada peningaktan sepuluh kalilipat. Setidaknya perhari usaha kuliner ini bisa menjual 1.000 gudeg kaleng.

“Ada yang untuk oleh-oleh ke Australia dan Belanda. Kalau perhari saat normal hanya 100 kaleng. Peningkatan sudah terasa sejak sebelum lebaran,” jelas pria berusia 54 tahun ini.

Pembeli, lanjutnya, dapat memilih porsi kaleng. Untuk kaleng terkecil dijual dengan harga Rp 29 ribu hingga Rp 32 ribu. Sementara untuk kaleng ukuran besar dijual dengan harga Rp 210 ribu. Isinya berupa enam butir telur dan ingkung ayam kampung utuh.

“Favoritnya masih yang kaleng kecil, karena mudah dibawa. Kalau varian rasa yang menjadi idola yang original. Rata-rata beli yang paket kardus isi 24 kaleng,” ujarnya. (dwi/pra/by)