SLEMAN – Sebuah balon udara berukuran jumbo jatuh menimpa rumah Tedi, 44 tahun, warga Dusun Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Rabu petang (12/6). Akibatnya jaringan listrik sempat padam selama satu jam dan merusak menara air serta pipa air rumah Tedi.

Dia menuturkan, balon jatuh pukul 17.00. Tedi ada di dalam rumah. Lalu dia mendengar suara benturan. “Saya kira ada anak jatuh. Pas keluar, ternyata sudah banyak warga berkerumun. Ada balon tersangkut di jaringan listrik,” kata Tedi.

Trafo listrik meledak. Sehingga listrik padam seluas satu blok di perumahan Tedi. Butuh waktu sejam untuk menurunkan balon udara yang tersangkut tersebut oleh petugas PLN. Dibantu warga.

Saat akan diturunkan masih ada api yang menyala. Api berasal dari tungku yang digunakan untuk menerbangkan balon udara. “Setelah dievakuasi, listrik nyala kembali,” ujar Tedi.

Balon udara berukuran lebih dari sepuluh meter. Diameter cincin tiga meter. Ada tali yang berasal dari balon udara yang membuat tersangkut di jaringan listrik.

“Awalnya ada tali yang tersangkut. Kalau tidak ada, mungkin masih terbang lagi. Setelah nyangkut lalu tertiup angin lalu kena rumah saya,” kata Tedi.

Kejadian tersebut, baru kali ini terjadi. Tedi tidak tahu dari mana asal balon udara yang tersangkut di rumahnya. “Yang saya tahu, dari arah selatan,” katanya.

Kejadian tersebut tidak memakan korban jiwa. Hampir setiap tahun ada balon udara yang jatuh. Padahal, menerbangkan balon udara secara liar ada hukumannya karena mengganggu penerbangan.

Sebelumnya, General Manager AirNav Bandara Internasional Adisutjipto, Nono Sunarhadi mendata, ada 14 laporan balon udara mengganggu penerbangan. Dilaporkan pilot di wilayah Jogjakarta.

Jumlah laporan tersebut turun 50 persen dari 2018. Saat itu, ada 29 laporan balon udara liar. “Meski turun 50 persen, kami tidak bosan sosialisasi ke masyarakat. Bahwa menerbangkan balon berbahaya,” kata Nono.

Nono menambahkan, balon udara liar bisa terbang sampai ketinggian 30.000 feet (9 kilometer). Padahal jalur penerbangan di wilayah pilot melaporkan, antara 26 feet hingg 29 ribu feet. Pelaku bisa dijerat Pasal 421 UU 1/2009 tentang Penerbangan. (har/iwa/fj)