Tak terhitung berapa banyak sapi yang telah disembelih Rajiyono. Dengan golok tajam pria 53 tahun itu siap menjalankan tugasnya di Rumah Potong Hewan (RPH) Giwangan, Kota Jogja.

DWI AGUS, Jogja

Sosok pria berperawakan kurus tinggi menyambut kedatangan Radar Jogja di RPH Giwangan, Rabu (12/6). Meski baru kenal, dia tak sungkan menjelaskan detail proses pemotongan hewan di tempat kerjanya itu. Dia lah sang jagal sapi. Lahir di Bantul 30 Mei 1966. Namanya simpel, Rajiyono. Tapi biasa dipanggil Jono.

Dia bukan jagal sapi sembarangan. Statusnya pegawai negeri sipil di Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja. Dia jagal ahli, professional, dan bersertifikat juru sembelih halal (juleha).

Berkali-kali dia ikut pendidikan dan pelatihan. Di Malang, Salatiga, Semarang, dan Jogjakarta. Tiga sertifikat juleha dia kantongi. Diperoleh saat diklat di Malang dan Salatiga. Serta diklat yang diselenggarakan Pemprov DIJ.

Profesi jagal sapi digelutinya sejak 1986. Sejak dia berstatus tenaga honorer di bagian pengendalian rabies. Selang setahun Jono muda ditarik ke Dinas Peternakan Kota Jogja. Ditempatkan di RPH babi. Selama lima tahun. Dia geser ke RPH sapi 2005.

“Benar-benar jadi jagal sejak 2001. Dulu awalnya sedikit kelabakan. Tapi sekarang untuk menyembelih satu sapi bisa 10-15 menit,” ujarnya.

Dari sekian jenis sapi, menyembelih limosin menjadi tantangan tersendiri. Selain  berbadan besar, karakter sapi ini cenderung berontak.

Butuh tenaga ekstra untuk mengeksekusinya. Khusus menyembelih limosin, dia harus minta tolong sesama jagal. Terutama untuk mengalungkan tali tampar ke kaki sapi.

“Wah kalau sendirian bisa kewalahan. Minimal harus berdua. Kalau yang kutuk manutan (jinak) itu jenis sapi metal dan Brahman,” jelasnya.

Tangan kecetit hingga kulit terluka sudah tak asing baginya. Tiga kali dia mengalami kecelakaan kerja. Pernah jari hingga telapak tangannya tertarik ke belakang. Gara-gara terjerat tali saat sedang menjatuhkan sapi dengan tampar. “Jangan dibayangkan rasa sakitnya. Ini sudah risiko kerja,” katanya.

Sebagai juleha, Jono memastikan seluruh sapi yang disembelih sesuai syariat agama. Diawali dengan ucapan ‘bismillah’. Agar dagingnya halal dan jadi berkah bagi yang memakannya. “Tidak bisa asal sembelih, potong, lalu distribusikan daging,” kata bapak dua anak ini.

Tugas Jono kian berat tiap musim Lebaran dan Idul Adha. Saat Lebaran dia bisa memotong 50 ekor sapi. Sedangkan ketika Idul Adha bisa sampai 80 sapi. Padahal di hari biasa paling banyak 25 sapi. Itu pun gantian dengan juleha lain.

Sebagai seorang jagal sapi kehidupan Jono bisa dibilang mapan. Anak sulungnya tengah menempuh semester akhir di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan si bungsu kelas X SMAN 1 Bantul.

Belasan tahun berkutat dengan sapi, Jono ternyata tidak doyan dagingnya. Dia justru memilih daging ayam kampung sebagai pilihan kulinernya.

Alasannya, ada rasa iba. Karena dia sendiri yang kerap menjagal sapi-sapi itu.(yog/rg)