PEMERINTAH Tiongkok terus mengejar Guo Wen Gui. Secara resmi sudah pula kirim red notice ke interpol. Tapi Pemerintah Amerika tidak mau menyerahkannya.

Pernah suatu kali Tiongkok kirim orang. Secara khusus. Mirip ketika kirim petugas ke Hongkong. Untuk diam-diam menangkap konglomerat hitam yang bersembunyi di Hongkong. Dan berhasil. Dibawa diam-diam ke Tiongkok. Diadili. Dihukum mati.

Petugas yang dikirim ke New York itu sempat berhasil bertemu Guo. Tapi tidak berhasil membawanya pulang.

Menurut sumber Politico, di internal Pemerintah Amerika terbelah. Ada kubu yang ingin Guo diserahkan ke Tiongkok. Ada yang menentangnya. Kementerian Kehakiman bertolak belakang dengan Kementerian Luar Negeri. Alasan untuk tidak menyerahkan: kalau Guo diserahkan ke Tiongkok pasti akan dihukum mati.

Menurut Politico, Jaksa Agung Jeff Sessions termasuk yang pro penyerahan. Tapi Jeff ditekan.

Belakangan Jeff ternyata mengundurkan diri juga. Tidak tahan dengan suasana kerja di bawah Trump. Minggu-minggu ini Jeff jadi topik hangat lagi. Laporan lengkapnya tentang penyelidikan atas Trump tidak diserahkan ke DPR. Yang diserahkan hanya ringkasannya. Jaksa agung yang sekarang berkeras tidak menyerahkannya. Biar pun DPR terus mendesaknya. Sampai-sampai jaksa agung itu dijatuhi vonis telah melakukan contempt of parliament.

Jaksa agung bergeming. Katanya: ini demi menjaga presiden.

Minggu ini permintaan laporan itu terus menjadi topik. Kali ini DPR mengajukan tuntutan lewat pengadilan. Minta agar pengadilan memerintahkan jaksa agung untuk menyerahkannya. Semua lagi menunggu putusan pengadilan. Bocoran yang ada: salah satu bagian laporan itu sangat merugikan posisi Trump.

Awalnya Guo juga dapat dukungan dari sesama pelarian Tiongkok.

Aktivis anti-Tiongkok itu mendirikan LSM.

Belakangan anggota LSM itu retak. Semua masih kompak menyerang Tiongkok. Tapi sudah tidak kompak manakala menyangkut peranan Guo.

Guo sendiri mulai bikin musuh. Di Pengadilan New York, Guo menggugat partner-nya. Gugatan itu kini lagi disidangkan.

Yang digugat adalah perusahaan detektif swasta. Nama perusahaan itu: Strategic Vision. Pemiliknya: French Wallop. Janda cerai seorang anggota senat tiga periode: Malcom Wallop. Setiap periode, Malcom ganti istri. Ditambah istri sebelum menjadi senator: menjadi empat.

Malcom dari dapil Wyoming. Yang saya jelajahi tahun lalu. Dia sebenarnya lahir di New York tapi sangat mencintai pedalaman Amerika. Dia meninggal di pedalaman itu. Di umurnya yang 78 tahun. Makamnya di Big Horn, Wyoming. Kota legendaris suku Indian. Yang penduduknya kini hanya 400 orang.

Guo menyewa perusahaan detektif swasta itu dengan satu tujuan: menyelidiki 10 orang musuhnya. Daftar 10 orang itu dirahasiakan dalam kontrak sepanjang lima halaman. Di situ hanya disebut ‘fish’. Ikan besar. Tapi rasanya tidak jauh-jauh amat dengan yang sudah ada di koper-koper kebencian Guo.

Tugas dari Guo adalah mencari data mengenai ikan-ikan besar itu: rekening banknya, wanita gelapnya, video-video pornonya, anak-anak haramnya, dan segala macam sisi buruk si ikan.

Data-data itu sudah harus didapat dalam satu tahun. Nilai kontraknya Rp 140 miliar. Uang mukanya Rp 14 miliar.

Setahun berlalu. Guo marah. Strategic Vision dianggap tidak bisa menyerahkan hasil yang dia inginkan. Bahkan, katanya, tidak bisa masuk ke rekening bank mereka. Padahal menurut Guo, Strategic Vision mengaku punya kemampuan untuk itu. Mengaku sering dipakai para pangeran negara Arab.

Strategic Vision menggugat balik Guo. Di pengadilan Distrik Selatan New York. Guo dinilai tidak benar. Ketika menyerahkan data-data tentang ‘ikan’ yang disasar. Data komputer yang diserahkannya mengandung software yang mengacau.

Guo juga dinilai berubah terus. Awalnya Guo minta detektif itu mempercayai Kuan Chao Han. Sesama aktivis anti-Tiongkok. Belakangan, katanya, Guo bilang jangan percaya orang itu.

Guo memberi nama lain. Yang lebih bisa dipercaya. Tapi lagi-lagi belakangan bilang: jangan percayai orang itu.

Guo juga lagi digugat HNA Group. Konglomerat dari Hainan. Yang antara lain memiliki anak usaha Hainan Airlines. Yang juga membeli banyak perusahaan di Amerika.

Ketika Big Bos HNA meninggal di Prancis tahun lalu, Guo mengungkapkan bahwa Big Bos tersebut sebenarnya bunuh diri. Tidak kuat menanggung utang perusahaan. Guo juga mengungkap kolusi antara HNA dengan pejabat tinggi negara.

Wang Jiang, bos besar itu, memang meninggal dengan cara yang tidak biasa. Di umurnya yang masih 56 tahun: terpeleset masuk jurang. Saat berwisata di salah satu pegunungan di Prancis.

Satu lembaga keuangan di Hongkong juga menggugat Guo: Pacific Alliance Asia Opportunity Fund. Yang pada 2000, Guo ngutang sebesar USD 30 juta. Yang kini sudah menjadi USD 88 juta. Atau hampir Rp 1 triliun.

Dalam peminjaman itu Guo memberikan personal guarantee. Artinya, kalau perusahaan tidak bisa membayar, kekayaan pribadi Guo harus disita.

Guo juga bertengkar di LSM anti-Tiongkok itu. Guo menggugat Boies Schiller Flexner. Yang menuduh Guo memberikan sumbangan USD 100 juta kepada capres Hillary Clinton. Juga memberi sumbangan pada Bannon. Saat Bannon berniat maju menjadi capres.

Harta Guo sendiri kini sudah dibekukan. Terutama yang di Tiongkok. Dan yang di Hongkong.

Yang di Beijing tidak usah diselidiki mengapa. Tapi, yang di Hongkong dikaitkan dengan pencucian uang. Yang dilakukan Guo. Sebesar 32 miliar dolar HK.

Dua anak Guo –Guo Mei dan Guo Qiang– menggugat kepolisian Hongkong. Yang membekukan aset ayahnya itu. Tapi polisi bergeming. Gugatan itu sia-sia.

Guo tentu menjadi orang yang paling horeee ketika terjadi perang dagang sekarang ini. Dia dan grupnya memang terus memanas-manasi Pemerintah Amerika. Disokong Bannon pula.

Kalau banyak orang menunggu bagaimana akhir perang dagang itu, saya paling menunggu bagaimana akhir drama Guo Wen Gui ini.

Saya pun, setelah menulis panjang ini, rasanya ingin tidak menulis DI’s Way selama seminggu ke depan.(yog/rg)