JOGJA – Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2019 ditargetkan akan diikuti lebih dari 300 atlet. Jumlah ini meningkat dibandingkan Peparda sebelumnya yang hanya diikuti 200 peserta. Ketua National Paralympic Committee (NPC) DIJ Hariyanto berharap event ini bisa lebih kompetitif.

Mereka akan berlaga di 10 cabang olahraga dengan berbagai nomor pertandingan yang dikategorikan berdasarkan kategori disabilitas. Cabang olahraga Paralimpik dibagi menjadi dua kategori besar, yakni aduan dan terukur. Aduan menuntut tiap pertandingan mempertemukan dua individu atau tim.

Sedangkan terukur menuntut seorang atlet mencapai ukuran tertentu tanpa ada lawan yang berhadapan langsung. Untuk olahraga aduan setidaknya harus ada lawan. Dua peserta pun bisa. “Tapi kan kami penginnya bisa lebih kompetitif, paling tidak tiga peserta,” jelasnya.

Harianto menjelaskan, salah satu kendala dalam regenerasi atlet yakni NPC belum memiliki induk organisasi di cabor. Akhirnya pembinaan menjadi tanggung jawab NPC daerah.Ini membuat pembinaan yang dilakukan kurang maksimal. “Beberapa pengcab cabor umum, seperti panahan, catur, bulutangkis, dan beberapa nomor atletik cukup membantu pembinaan. Secara regulasi mereka memang bisa berlaga di kompetisi umum,” jelasnya.

Sehingga beberapa atlet Paralimpik sudah mengikuti pembinaan di bawah pengcab cabor umum. Yang tahun lalu belum bisa dilaksanakan cabor goalball. Itu khusus tunanetra. Kalau dilihat dari beberapa informasi pihak NPC kabupaten/kota sudah melakukan persiapan.”Semoga bisa dilaksanakan untuk cabor ini,” jelasnya.

Ada satu lagi cabang olahraga boccia khusus untuk penyandang Cerebral Palsy. Namun Harianto pesimistis cabor ini bisa dipertandingkan. Sebab sosialisasi masih sangat minim. (cr10/din/er)