JOGJA – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kota Jogja memastikan wilayah kota Jogja bersih suspect antraks. Kepala Dispertan Jogja Sugeng Darmanto menjamin kasus antraks Gunungkidul tidak merembet ke kota. Acuannya berupa hasil ujian laboratorium untuk sampel sapi dan sampel tanah.

Uji laboratorium meliputi daging dan darah. Sementara untuk sampel tanah menyasar kawasan peternakan di Kotagede dan Tegalrejo. Uji laboratorium juga menyasar rumah pemotongan hewan (RPH) di Giwangan.

“Seluruh hasil uji laboratorium menunjukkan hasil negatif antraks. Baik yang di peternakan maupun RPH Giwangan, tapi langkah antisipasi harian tetap ada,” jelasnya Rabu (12/6).

Menurut dia, pengawasan ketat juga berlaku bagi jalur distribusi sapi. Syarat surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) wajib terlampir. Jajarannya berhak menahan apabila sapi tak disertai SKKH. Terkait distribusi, sapi Kota Jogja mayoritas berasal dari Bantul dan Boyolali.

Upaya pencegahan tidak hanya berupa disinfektan. Setiap personel di RPH Giwangan juga mendapat pengawasan kesehatan. Setidaknya para jagal dan pegawai RPH mendapatkan antibiotik pasca-bersentuhan langsung dengan hewan potong.“Kami juga selalu mengawasai kebersihan kandang. Sudah menjadi acuan baku,” katanya.

Radar Jogja sempat mengecek langsung RPH Giwangan. Standar kesehatan memang berlaku selama proses pemotongan. Hanya saja proses pemotongan daging terlihat longgar. Terbukti beberapa jagal tidak lagi mengenakan pakaian standar keamanan dan kesehatan.

Dokter hewan RPH Giwangan drh. Waryoto menjamin sebelum dan selama proses penyembelihan sesuai standar. Para jagal mengenakan masker, helm, sepatu boot dan celemek. Meski begitu ada beberapa bagian seperti cairan formalin untuk sepatu yang belum tersedia.

Pengecekan SKKH berlangsung usai sapi sampai RPH. Setelahnya tetap ada pengecekan kesehatan setelah penyembelihan. Sampel uji laboratorium berupa jerohan sapi yang disembelih saat itu juga.

“RPH kan pintu terakhir sebelum dinyatakan layak konsumsi. Sebenarnya sebelum kasus Gunungkidul pemeriksaan sudah jadi standar baku. Ada ante mortem dan post mortem sebelum didistribusikan ke pasar,” kaminnya.

Kota Jogja, lanjutnya, dipastikan bersih dari dugaan antraks. Hanya saja sebaran bakteri ini memang pernah terdeteksi di kawasan Sleman dan Kulonprogo. Pasca kasus Gunungkidul, pemeriksaan kesehatan berlaku lebih ketat.

“Kalau suspect pasti langsung kami pisahkan dan bakar (kremasi), tidak boleh disembelih. Cirinya ada cairan atau darah keluar dari hidung, telinga dan lubang lainnya. Untuk saat ini wilayah kota masih steril dan tidak ada temuan kasus (dugaan antraks),” jelasnya. (dwi/er)