KUDUS – Perayaan kupatan Kanjeng Sunan Muria atau Sewu Kupat di Colo, Dawe, Kudus berlangsung

semarak Rabu (12/6). Ada 21 gunungan berisi kupat, lepet, dan berbagai hasil bumi diarak menuju Taman Ria. Taman ini masih satu area dengan objek wisata Muria. Warga pun menyemut di sekitar perayaan tradisi yang rutin digelar setahun sekali ini.

Turut Hadir bupati Kudus, wakil bupati, ketua DPRD Kudus, ketua PKK Kudus, dan jajaran forkompimda lainnya.

Prosesi diawali penyerahan ketupat raksasa oleh BPD kepada bupati Kudus dan wakil bupati Kudus.

Dilanjut pemotongan ketupat dan lepet.

Tari kolosal bertema persatuan Indonesia makin menyemarakkan acara. Gesekan biola terdengar begitu menyayat. Membentuk harmoni bersama instrumen alat musik modern dan tradisional.

Puluhan orang berpakaian adat Nusantara berlarian menguasai pelataran depan panggung Taman Ria.

Raut wajah mereka ceria. Bermain kejar-kejaran dan sunda manda. Ada juga beberapa yang bermain gunungan wayang.

Wajah hadirin dan tamu undangan yang duduk di bawah tenda di atas bukit begitu semringah melihat aksi ini.

Selang beberapa menit penari berganti. Kali ini diisi para remaja. Seorang penari perempuan yang juga berkostum tradisional mengikatkan selendang hijau di pinggangnya.

Dia diperebutkan sekitar lima pria. Semua penari pria itu menarik selendang dari semua sisi.

Penari perempuan itu pun terombang ambing oleh tarikan para pria tadi. Tetapi semua laki-laki yang

memerebutakan wanita itu pun tumbang. Hanya satu yang berhasil mempertahankannya.

Penari perempuan ini menggambarkan Indonesia yang dirongrong berbagai pihak. Tetapi semua pengacau tumbang dengan sendirinya. Karena negara ini memiliki persatuan.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Kasmudi mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pentas seni budaya yang berkarakter khas kota kretek. Yang menggambarkan

Kudus modern, religius, dan sejarhtera. ”Untuk melestarikan nilai tradisi lokal dan mengangkat potensi seni budaya Kudus. Khususnya estetika Colo,” katanya.

Bupati Kudus Muhammad Tamzil juga mengapresiasi kegiatan ini. Setelah melihat antusiasme warga. Mulai pertunjukan sendratari dan arak-arakan 21 gunungan kupat yang dilakukan secara gotong royong.

”Semoga kegiatan ini mendapat berkah. Saya mendoakan semoga dimudahkan rezekinya. Dilancarkan

semua urusan dan hajat tercapai,” ungkapnya.

Selain bernilai budaya, prosesi Sewu Kupat sarat nilai ekonomi. Hal itu terlihat dari banyaknya produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang turut memeriahkan acara.

Ada kopi Muria, olahan parijoto, hingga olahan ganyong. Ketiganya merupakan makanan khas di Gunung Muria. ”Saya bangga melihat semangat warga. Dari sekian UMKM yang tumbuh, beberapa ada hasil pelatihan wirausaha dari pemkab,” katanya.

Dari Colo, lanjut Tamzil,  ada 6 orang yang masing-masing dapat modal Rp 10 juta untuk kluster

Kopi.

Supaya izin usaha tak lagi menjadi momok bagi industri rumah tangga, Tamzil berjanji akan mengambil langkah untuk mempermudah perizinan. ”Tadi saya sudah meminta kepala dinas kesehatan untuk jemput bola. Jangan menunggu warga datang,” ucapnya.

Usai pertunjukan sendratari, acara dilanjutkan kepungan tumpeng. Dibuka secara simbolis oleh bupati dan jajaran forkompimda.

Warga yang hadir lantas berebut kupat, lepet, dan aneka hasil bumi yang diyakini membawa berkah. (vah/mal/JPG/yog/er)