Pernyataan pria paro baya itu bukan berarti dia menolak kebijakan pemerintah. Dia justru mendukungnya. Namun, dia tetap khawatir larangan melintas bagi kendaraan bermotor akan berimbas pada pendapatannya.

Puluhan tahun menghuni Malioboro, Walidi yakin, konsep pedestrian akan menambah kenyamanan pengunjung. Namun, dia berharap, pemerintah ikut memikirkan supaya lapak para PKL tetap ramai dikunjungi wisatawan. Bukan sebaliknya.

“Lebih nyaman karena nggak bising. Tapi ya tentu ingin tetap laris. Itu yang penting,” tegasnya.

Rosi, PKL lainnya, juga mendukung konsep semi pedestrian. Tapi dia berharap pemerintah mempertimbangkan kembali penerapannya. Dia beralasan, setiap hari harus mengusung dagangannya seorang diri ke lapak. Rosi khawatir bakal kesulitan mengusung dagangannya jika harus berjalan kaki dari tempat parkir menuju lapaknya. Beda dengan kondisi sekarang. Dia bisa mengangkut dagangannya menggunakan sepeda motor langsung ke lapak. “Susahnya ya itu. Bawa dagangan jadi repot. Apalagi saya harus memikul sendiri dari parkiran ke lapak, berat,” ungkapnya.

Tak hanya PKL, warga yang sering berkunjung ke Malioboro pun mengeluhkan hal senada. “Nyaman memang nyaman kalau untuk pejalan kaki. Tapi akses parkirnya yang susah,” kata Nana, warga Jogja.

Nana berharap, penerapan konsep semi pedestrian Malioboro benar-benar bijak dan tak memberatkan warga Jogja sendiri. Terutama soal parkir. Baik kantong parkir maupun juru parkirnya. Supaya para pengunjung Malioboro tak kesulitan mencari kantong parkir. Juga tak takut dipalak juru parkir liar.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyatakan, kebijakan konsep semi pedestrian merupakan rencana jangka panjang untuk menata kawasan Malioboro. Karena itu, dia mengajak semua ‘penghuni’ Malioboro tak khawatir. Baik para PKL maupun pemilik toko. Sebagai etalase Kota Jogja, dia yakin para pelaku usaha di Malioboro tetap tak akan sepi pengunjung. ”Uji coba ini bagian dari sosialisasi (penerapan konsep pedestrian Malioboro, Red),” tuturnya.

Bagi pengunjung Malioboro dengan kendaraan bermotor, lanjut Haryadi, Pemkot Jogja telah menyediakan kantong-kantong parkir di beberapa lokasi. Seperti di Taman Parkir Abu

Bakar Ali, Beskalan, Beringharjo, dan Senopati.

”Kendaraan bermotor kan selama ini memang sudah biasa Parkir di kantong-kantong parkir itu. Jadi saya rasa penerapan pedestrian tidak membawa dampak signifikan,” katanya. (cr15/yog/rg)