SEJAK 2008 Bambang Sujatmoko selalu menjadi andalan DIJ. Meskipun dia bukan asli warga Jogjakarta. Beberapa waktu lalu Radar Jogja sempat ngobrol dengan atlet senior binaraga itu. Berikut kisahnya.

HERY KURNIAWAN, Jogja

Usianya memang tak lagi muda. Pada 15 Oktober nanti umurnya genap 43 tahun. Namun badannya masih tampak kencang. Kekar. Ototnya menyembul, mengikuti lekuk tubuhnya. Di kalangan atlet binaraga dia tergolong senior. Dan tetap masih menjadi andalan DIJ. Terutama untuk ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Lahir di Lhokseumawe, Nagroe Aceh Darussalam (NAD), Bambang berikrar setia membela kontingen DIJ. Kini dia terus mempersiapkan diri menghadapi laga PON 2020 di Papua.

Menjadi atlet binaraga, pria kelahiran 1976 itu mengaku tanpa kesengajaan. “Awalnya cuma iseng. Nge-gym di sela kuliah. Sekitar 1999,” kenangnya.

Lama tinggal di Jogjakarta membuatnya semakin betah. Meski istrinya, Titin Indrawati, juga bukan asal Jogjakarta. Sang istri asal Sulawesi Tenggara. Kecintaan Bambang pada Jogjakarta terus tumbuh seiring kesibukannya. Terlebih ketika dia tercatat sebagai atlet binaraga kontingen DIJ.

Lulus kuliah dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jogjakarta Bambang tak berkeinginan pulang ke kampung halaman. Dia justru ingin terus nge-gym. Dari hanya iseng, menjadi serius. Bambang bertekad menjadi atlet binaraga profesional.

Merasa memenuhi kualifikasi, Bambang pun mulai berani mengikuti berbagai turnamen binaraga tingkat daerah. Hingga pada 2008 dia didaulat mewakili DIJ pada PON di Kalimantan Timur. Kala itu dia masuk putaran final. Meski akhirnya tak meraih juara. Bisa masuk final PON menjadi kebanggaan tersendiri. Meskipun hal itu membuatnya penasaran. Tiga kali PON dia lewati. Masih juga belum meraih juara. Catatan terbaiknya hanya bertengger di peringkat empat. Hal itu membuatnya makin penasaran. Untuk bisa meraih juara.

PON Papua 2020 menjadi targetnya meraih emas. Bambang sangat optimistis. Setelah merasa mampu memecah kebuntuan. Sekaligus mengevaluasi kekurangannya. “Saya katakan peluang saya cukup bagus di Papua nanti,” ujarnya yakin.

Usia tak menjadi kendala baginya untuk berjuang. Demi mengharumkan nama DIJ. Kendati demikian, dia juga mulai ancang-ancang untuk masa depannya kelak. Demi kelangsungan hidup keluarganya. Terlebih untuk masa depan putrinya.

Ada satu impian yang ingin segera diwujudkannya. Setelah pensiun sebagai atlet binaraga. Bambang ingin memiliki pusat kebugaran sendiri. Untuk menempa sekaligus mencetak atlet-atlet muda binaraga Jogjakarta. “Yang penting saya punya pegangan setelah pensiun nanti,” kata binaragawan kelas 60 kilogram itu.

Berpikir tentang pensiun bukan berarti Bambang akan segera mengakhiri karirnya. Dia sendiri belum menentukan kapan akan pensiun.(yog/rg)