Krisis politik di Mataram terus berlangsung di era Panembahan Hanyakrawati. Masa kepemimpinannya terbilang relatif pendek. Dia memerintah selama 12 tahun. Pada 1601-1613.

Raja kedua Mataram itu meninggal karena diseruduk banteng saat berburu di Hutan Krapyak daerah Kedu, Magelang. Hanyakrawati kemudian populer dengan sebutan Sinuhun Seda Krapyak. Raja yang meninggal di Hutan Krapyak. Dia juga bergelar Susuhunan Anyakrawati.

Sebelum kejadian tragis itu Hanyakrawati seakan-akan seperti mendapatkan firasat. Dia menggelar rapat kabinet. Sejumlah pejabat kerajaan seperti Pepatih Dalem (perdana menteri) Adipati Mandaraka, Panglima Tentara Nasional Mataram Pangeran Purbaya, dan para pangeran diundang.

Dalam pisowanan ageng itu Hanyakrawati mengaku mendapatkan wangsit. Ada bisikan gaib dari para leluhurnya. Dia diminta mengangkat Raden Mas (RM) Jatmika alias Rangsang sebagai pewaris takhta.

Sabdaraja yang diucapkan Hanyakrawati itu rupanya menimbulkan persoalan serius. Sebab, dia pernah berjanji mengangkat RM Wuryah sebagai calon penggantinya. RM Wuryah anak dari permaisuri pertama (Ratu Kulon). Ibunya bernama Raden Ayu Lungayu. Asalnya dari Kadipaten Panaraga.

Sedangkan Rangsang terlahir dari Ratu Adi dari Pajang. Saat itu status ibunya belum permaisuri. Ayahnya masih menjadi pangeran biasa. Sebaliknya, Wuryah lahir ketika ayahnya sudah bertakhta. Usia keduanya terpaut jauh. Saat Hanyakrawati wafat, Wuryah baru 8 tahun dan Rangsang telah berumur 20.

Keputusan Hanyakrawati menggeser posisi putra mahkota itu mengundang polemik. Di internal kerajaaan terbelah dalam dua kubu. Ada yang pro dan kontra. Pihak yang tidak setuju diwakili Pepatih Dalem Mandaraka, keluarga Adipati Panaraga, maupun pejabat-pejabat senior kerajaan.

Mereka kompak menilai raja telah ingkar janji. Ucapannya plin plan. Tidak dapat dipegang. Seorang pemimpin harus satu kata dengan perbuatan. Ini sesuai ungkapan sabda pandita ratu tan kena wola-wali.

Komitmen menjadikan Wuryah sebagai penerus takhta Mataram harus dilaksanakan. Apalagi Wuryah adalah anak sulung dari permaisuri pertama. Jauh lebih punya hak ketimbang Rangsang.

Sebaliknya, pendukung Ratu Adi yang belakangan diangkat menjadi permaisuri kedua atau Ratu Wetan disokong panglima perang Pangeran Purbaya. Juga Adipati Pajang berikut jaringan massa yang besar. Mereka berasal dari kadipaten-kadipaten bawahan Mataram.

Kubu ini beralasan sabdaraja harus dilaksanakan. Perdebatan tidak ada titik temu. Polarisasi kedua kelompok sulit dielakkan. Negara Kesatuan Kerajaan Mataram yang didirikan Panembahan Senopati terancam pecah.

Situasi makin parah. Pendukung Rangsang mengancam menggelar aksi people power. Mereka hendak melakukan tapa pepe di alun-alun. Kubu ini mengampanyekan sabdaraja harga mati. Tidak dapat ditawar apalagi didiskon. Pendukung Wuryah meladeni dengan mengadakan aksi tandingan. Sama-sama turun ke jalan.

Menyikapi itu, Pepatih Dalem Mandaraka mengusulkan dibentuk mahkamah kerajaan (MK). Tugasnya mencari solusi atas krisis politik itu. MK diharapkan menjadi juru adil. Anggotanya tokoh-tokoh kerajaan yang dianggap kredibel.

Hasilnya kemudian disepakati Wuryah tetap dilantik. Gelarnya Adipati Martapura. Namun usia takhtanya hanya berlangsung sehari. Penobatannya kemudian didiskualifikasi. Wuryah akhirnya digantikan Rangsang. Putusan MK itu disetujui kedua kubu.

Pengukuhan Martapura berlangsung 4 Oktober 1613. Sore harinya setelah pelantikan itu, Martapura menyatakan mengundurkan diri. Takhta diserahkan kepada kakaknya sesuai wasiat almarhum ayahnya.

Rangsang kemudian naik takhta bergelar Panembahan Agung Hanyakrakusuma. Gelar itu diubah menjadi susuhunan. Sebelum akhirnya berganti lagi menjadi Sultan Agung Hanyakrakusuma. Setelah turun takhta, Martapura akhirnya tersingkir dari percaturan politik. Dia memilih mengasingkan diri menjadi Raden Santri di Gunung Pring, Muntilan, Magelang.(yog/rg/bersambung)