SOLO – Pemerintah pusat berencana membangun tiga jalan tol sekaligus. Yakni, Jogja-Bawen, Jogja-Cilacap, dan Jogja-Solo. Yang terakhir, pemprov dan pemerintah pusat masih intens melakukan pembahasan. Hingga sekarang harga tanah di wilayah calon terdampak pun masih normal.

REALISASI pembangunan jalan tol Jogja-Solo paling alot di antara proyek strategis nasional lain di DIJ. Pembangunan jalan tol Jogja-Bawen, contohnya. Hingga sekarang Pemprov DIJ dan pemerintah pusat belum bersepakat. Kendati begitu, pemprov mengisyaratkan tetap memberikan lampu hijau terhadap proyek yang digagas pemerintah pusat itu.

Sekprov DIJ Gatot Saptadi menyebutkan, di antara keberatan pemprov terletak pada penentuan jalur yang dilintasi tol. Khususnya perbatasan antara Prambanan, Jawa Tengah dan DIJ. Pemprov bersikukuh jalan tol Jogja-Solo tersambung dengan Jogja-Bawen. Di mana pemprov dan pemerintah pusat telah menyepakatinya. Dengan begitu, exit toll Jogja-Solo dan Jogja Bawen berada satu kawasan. Yakni, di kawasan Ring Road Timur.

Menurut Gatot, detail engineering design (DED) tol Jogja-Bawen telah disusun. Dari DED itu diketahui, tol sepanjang 10 kilometer tersebut bakal melintas di sepanjang Karangtalun, Minggir, Sleman. Membujur ke timur hingga ke arah Ring Road Timur.

”DED-nya sudah diteruskan ke pemerintah pusat,” jelas Gatot di kompleks Kepatihan belum lama ini.

Keinginan lain pemprov adalah desain tol dibangun melayang (elevated). Itu untuk menghindari banyaknya situs bersejarah di wilayah Kota Jogja. Meski begitu, Gatot tetap melarang ruas tol melintas di atas situs-situs bersejarah.

”Sekitar 500 meter dari tol harus bebas,” tegasnya.

Alasan tol dibangun melayang juga untuk meminimalisasi pembebasan lahan. Lantaran lahan kosong yang tersisa di Kota Jogja sangat terbatas. Birokrat yang pernah menjabat sekretaris DPRD DIJ ini tak menampik, pembebasan lahan mustahil dihindari. Namun, dia meyakini bisa diminimalisasi.

”Makanya, untuk meminimalisasi (pembebasan lahan) harus dikaji perpaduan dengan tol melayang,” ujar Gatot menyebut pembangunan tol dengan model elevated merupakan saran gubernur DIJ.

Ketika disinggung mengenai pembangunan ruas tol Jogja-Solo, Gatot menyebut diserahkan kepada pihak swasta.

”Tapi untuk proses lelangnya saya belum tahu pasti,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Sapto Raharjo membenarkan bahwa antara pemprov dan pemerintah pusat belum ada titik temu perihal tol Jogja-Solo. Namun, Sigit mengisyaratkan jalur tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo bakal tersambung. Nah, yang paling memungkinkan adalah ruas tol Jogja-Bawen dibangun melayang di jalur ring road.

”Yang paling memungkinkan untuk jalur dari Ring Road Barat ke timur, ya, elevated,” katanya.

Berdasar libur Lebaran tahun ini, bekas Pj bupati Bantul ini melihat, kepadatan arus lalu lintas di DIJ cukup padat. Menyusul beroperasinya tol Kartasura-Surabaya dan Kartasura-Semarang. Jamak pemudik dengan tujuan Jogja yang memanfaatkannya.

”Jika tol Solo-Jogja tersambung dengan tol trans Jawa, maka arus kendaraan bisa lebih lancar,” ucapnya optimistis.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan hal senada. Ganjar menilai, keberadaan tol Jogja-Bawen maupun Jogja-Solo sangat penting. Terutama untuk pengembangan kawasan Joglosemar. Termasuk di antaranya pengembangan sektor pariwisata. Di sisi lain, keberadaan jalan ini juga diyakini mampu mengurai kemacetan arus lalu lintas saat musim liburan panjang.

”Saya dua kali melewati sana. Dari Jogja ke Solo sama baliknya sudah luar biasa crowded-nya. Sampai-sampai yang dari Solo harus dibuang lewat Sukoharjo tembus klaten,” kata Ganjar kepada Radar Semarang (Jawa Pos Grup) belum lama ini.

Terkait progres pembangunan tol Jogja-Bawen, politikus PDI Perjuangan ini, menegaskan, Pemprov Jawa Tengah sedang mengurus sejumlah izin secara paralel. Mulai dari penetapan lokasi (panlok), amdal dan izin lainnya. Targetnya, ground breaking tol Jogja-Bawen dapat dilakukan tahun ini.

”Panlok cepet kok. Yang penting penetapan jalur lokasi yang semuanya aman. Tidak menerabas heritage, lahan subur, dan daerah jauh dari bencana. Ini yang menjadi pertimbangan,” katanya.

Saat memantau arus balik di Semarang, Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono menyampaikan, pembangunan tol Bawen-Jogja ini akan dilakukan dengan dua paket. Dimulai dari Jawa Tengah sambil memfinalkan desain trase Jogja.

”Sebentar lagi untuk yang Jawa Tengah akan dilelang. Tahun ini. Tinggal beberapa bulan saja kan,” ujarnya.

Untuk paket kedua di Jogja, Basuki meminta seminimal mungkin dilakukan pembebasan lahan. Hal ini mengingat lahan di Jogja tidak terlalu luas. ”Karena makin besar (pembebasan lahan, Red) akan makin banyak mengurangi lahan di Jogja. Dicari trase paling optimal,” pintanya.

Pembebasan lahan yang tidak banyak ini, ia menjelaskan, justru akan menambah biaya pembangunan. Sebab, dengan minimalnya pembebasan lahan, tol akan dibangun dengan model elevated. ”Tapi tidak semuanya. Ini masih dihitung-hitung,” jelasnya. (bhn/sga/zam/zl)