PENDIDIKAN dan kebudayaan merupakan sebuah ilmu yang tidak bisa berdiri sendiri. Dengan budaya dan ilmu masyarakat menjadi cerdas dan memiliki karakter yang baik.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

Bagi seorang Iptu Susila, pendidikan dan kebudayaan memiliki peranan penting dalam membentuk karakter. Sejak tahun 2009, disela kesibukannya sebagai Kanit Binkamsa Sat Binmas Polres Sleman, dia juga fokus untuk mengembangkan taraf hidup masyarakat di Dusun Blimbing, Sukoreno, Sentolo, Kulonprogo.

Melalui Paguyuban Peduli Pendidikan “Obligota” dia mulai mendidik anak-anak mulai dari SD hingga SMA. Obligota sendiri merupakan singkatan dari Orang Blimbing Giyoso dan Kota. “Sepuluh tahun terakhir ini kami bisa menyekolahkan anak hingga masuk universitas negeri,” kata Iptu Susila.

Setidaknya, hingga 2019 ini sudah ada sekitar 150 anak yang dibantu oleh Iptu Susila. Bantuan itu berupa beasiswa kepada anak-anak. “Tujuannya apa, agar mereka bisa terpacu untuk belajar dan nilainya bagus, karena jika hasil rapotnya bagus kami akan memberikan bantuan agar mereka bisa lulus dan masuk universitas negeri,” ungkapnya.

Bukan hanya fokus pada pendidikan saja. Pria 52 tahun itu juga berusaha mengembalikan lagi budaya Jawa yang sudah mulai luntur.

Pada 2010, dia mulai merintis untuk kembali menggunakan busana adat Jawa pada acara-acara tertentu. Contohnya, midodareni, manten dan lain sebagainya.

Menurut dia, saat ini budaya jawa sudah banyak dilupakan masyarakatnya. Pemakaian adat busana jawa sudah jarang. ‚ÄúSekarang sudah mulai sadar dan kembali menggunakan busana Jawa,” ujarnya prihatin.

“Respon dari masyarakat sangat bagus. Yang sepuh-sepuh yang dulu memakai surjan bisa tergugah kembali dan dipakai lagi. Yang muda jika tidak punya surjan kami juga akan membantu,” lanjutnya.

Tidak sampai di situ saja, Iptu Susila juga berusaha kembali menghidupkan budaya macapat. Tepatnya pada 2012 dia mulai mendirikan Paguyuban Obligota Budaya yang berisikan kegiatan Macapat.

Pengabdian Iptu Susila untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tidak berhenti di situ saja. Mulai 2015, melalui tanah pribadi milik Iptu Susila di dusun tersebut, didirikanlah bangunan rumah limasan sebagai rintisan sanggar Obligota Budaya. Untuk mewadahi kegiatan tari anak-anak, macapat, dan kegiatan lainnya.

Selain itu, nantinya juga akan dibangun masjid yang sumber pendanaannya berasal dari swadaya masyarakat sekitar. “Saya berharap kedepan, sanggar ini banyak mendapat perhatian sehingga banyak anak-anak yang bisa belajar di sanggar ini tidak hanya anak sekitar tapi juga anak anak darimana saja bisa belajar di sini,” bebernya.

Ternyata perhatiannya terhadap kesejahteraan masyarakat inilah yang mengantarkannya merengkuh Juara Harapan III saat lomba Polisi Teladan Tingkat Nasional. Penghargaan itu bahkan diterimanya langsung dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Prestasi di tingkat nasional itu berawal dari lomba Polisi Teladan 2018 di Polda DIY mendapatkan juara II. Lalu di tingakat nasional ada lomba serupa namun dengan tema pendidikan dan budaya. “Dari DIY saya yang diminta maju mewakili ke tingkat nasional,” jelasnya.

Iptu Susila mengaku, tidak menyangka akan menerima penghargaan tersebut dari Kapolri. Iptu Susila menjelaskan bahwa kegiatan Sanggar Obligota itu adalah murni untuk melestarikan budaya jawa dan tidak terpikir sedikit pun bahwa itu merupakan bagian dari kedinasan.

“Mei 2019 mulai proses seleksi. Saya sendiri tidak menyangka walaupun dapat juara harapan III setidaknya dari 34 Polda di Indonesia bisa masuk enam besar,” bebernya.

Dia berharap, apa yang dilakukan bisa bermanfaat. Ke depan, dia berharap bisa membantu untuk menyekolahkan anak didik di Obligota hingga jenjang universitas. “Karena saat ini kami baru mampu membantu hingga SMA, semoga ke depan bisa sampai universitas,” harapnya. (pra)