Sosok 45 tahun ini patut menjadi teladan generasi muda. Kehilangan satu kaki tak lantas membuat hidupnya merana. Dia terus berkarya dengan serba keterbatasannya. Itulah Teguh Sutrisno dari Yayasan Penyandang Cacat Mandiri.

IWAN NURWANTO, Bantul

TEGUH duduk di selembar tikar. Kedua tangan kekarnya sibuk membolak-balikkan sebuah kerangka kursi dari besi

Sesekali satu tangannya menarik seutas rotan plastik yang dia gantungkan di jendela. Untuk kemudian disambut tangan satunya lagi. Untuk merangkai rotan itu pada kerangka kursi tadi. Teguh tampak menikmati pekerjaannya. Bahkan sambil sesekali bercanda. Tangannya begitu cekatan merangkai rotan hingga menjadi sebuah kursi. Sudah dua tahun dia menganyam kursi di Mandiri Craft, nama lain Yayasan Penyandang Cacat Mandiri di Kabupaten Bantul.

Sebuah kursi roda bersanding di dekatnya. Kursi roda itulah alat mobilisasinya. Sudah cukup lama Teguh kehilangan salah satu kakinya. Saat dia bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Sebelum menjadi perajin, dia pernah menjadi penjaga keamanan di tempat itu juga. Sejak 2009.

“Waktu masih jadi satpam saya diajari menganyam kursi. Akhirnya tertarik dan menganyam sampai sekarang,” ujarnya saat berbincang dengan Radar Jogja di kantor Mandiri Craft, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon, Bantul Rabu (26/6).

Mandiri Craft merupakan yayasan yang memberdayakan kaum difabel dengan aneka kegiatan produksi kerajinan.  Selain kursi anyam, ada pula kerajinan speaker bambu dan alat peraga pendidikan anak usia dini. Berdiri sejak 2007, sampai sekarang Mandiri Craft telah memberdayakan puluhan penyandang disabilitas.

Teguh mampu menganyam sebuah kursi paling cepat dua hari. Namun jika mendapati motif anyaman yang rumit bisa sampai tujuh hari baru selesai. Hal tersulit memang membuat motif. Baris anyamannya sering keliru. Apalagi jika motif pesanan pelanggan tergolong baru dan langka. Kesalahan motif anyaman akan terlihat saat pengecekan akhir. Jika memang ada yang keliru maka harus dibongkar. Diulangi menganyam dari awal. Itu demi menjaga kualitas produk.

Dari pekerjaannya itu Teguh mengaku bisa mendapat upah hingga Rp 1,5 juta. “Lumayan. Cukup untuk menutup kebutuhan hidup dan keluarga,” ungkapnya.

Setiap hari tak pernah tidak ada pekerjaan. Order menganyam kursi selalu ada.

Di waktu senggangg, Teguh juga tak pernah mau menganggur. Dia aktif dalam kegiatan olahraga. Bahkan menjadi pelatih atletik bagi atlet penyandang disabilitas di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) Jogjakarta yang beralamat di Pundong. Kegiatan itu dilakukannya seminggu sekali. Tiap Rabu.

Teguh sendiri merupakan mantan atlet panahan di ajang Para Games 2003 mewaliki Indonesia. Para Games merupakan pentas olahraga tingkat Asia setara Sea Games, khusus bagi penyandang disabilitas.

Teguh sangat bersyukur dengan kondisinya saat ini. Setidaknya dia tetap bisa menjadi kepala keluarga secara utuh. Bertanggung jawab kepada keluarga di tengah keterbatasannya. Karena itu pula dia tak henti-hentinya mengajak kaum disabilitas lainnya untuk bangkit dan mandiri. Tidak berlama-lama terpuruk meratapi nasib. “Yang penting terus berusaha. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya,” tegasnya.(yog/rg)