Home Industry mainan tradisional bisa menemui ujung senjanya. Pewaris keluarga tak lagi tertarik. Meski, peluang pasarnya masih ada.

IWAN NURWANTO, Bantul

SEJENAK Atmo Wiyono mengingat masa kejayaannya. Ingatannya kembali ke masa-masa ketika mainan tradisional jadi favorit anak-anak. Mereka yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) saban hari sabar menunggu Mbah Atmo, sapaan Atmo Wiyono, menjajakan berbagai jenis mainan tradisional. Seperti otok-otok, kitiran, wayang kertas, dan kletekan.

”Mereka (anak-anak) pasti merengek ke orang tuanya untuk dibelikan,” kenang Mbah Atmo menceritakan fenomena anak-anak kecil pada beberapa dekade lalu.

Pada masa itu, Mbah Atmo bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari mainan tradisional. Saban hari, Mbah Atmo memproduksi berbagai jenis mainan tradisional sekaligus menjajakannya sendiri. Berkeliling dari kampung ke kampung. Juga dari ke pasar satu ke pasar lainnya.

”Seperti Pasar Barongan (Jetis, Bantul), Mangiran (Srandakan, Bantul), hingga Pasar Godean (Sleman),” tuturnya.

Di usianya yang menginjak 81 tahun, Mbah Atmo masih lihai membuat aneka mainan tradisional. Sekaligus mempraktikkannya. Seperti saat Mbah Atmo menunjukkan keahliannya kepada Radar Jogja di rumahnya yang terletak di Pedukuhan Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul kemarin (27/6). Tangan Mbah Atmo yang sudah dihiasi guratan-guratan tanda usia itu cekatan merangkai kitiran. Bahannya berupa beberapa potongan bambu dan kertas.

”Sekarang anak-anak mainannya sudah plastik semua,” ucapnya dengan wajah sedih.

Seiring berjalannya waktu, tren mainan anak-anak memang bergeser. Anak-anak seusia siswa SD bahkan TK dalam beberapa tahun terakhir cenderung memilih gawai. Yang lengkap dengan berbagai pilihan aplikasi game. Padahal, aneka mainan tradisional tak kalah menarik.

Mbah Atmo khawatir home industry mainan tradisional yang ditekuni keluarganya dari generasi ke generasi segera menemui ujung senjanya. Seiring dengan perkembangan zaman. Apalagi, tak satu pun anak-anaknya yang tertarik meneruskan usahanya.

”Mereka lebih memilih pekerjaan lain. Yang penghasilannya lebih pasti,” kata salah satu dari tiga perajin mainan tradisional di Pedukuhan Pandes ini.

Namun, Mbah Atmo tak patah arang. Mbah Atmo tetap mengisi hari-harinya dengan membuat beberapa jenis mainan tradisional. Sembari mengelola toko kelontong kecil-kecilan di depan rumahnya.

”Tetap ada yang membeli (mainan tradisional, Red). Seminggu atau sebulan sekali. Seringnya guru TK bersama anak didiknya,” ucapnya semringah.

Guru TK itu, kata Mbah Atmo, mengajak anak didiknya untuk mengenal aneka mainan tradisional. Yang harganya juga lebih terjangkau. Otok-otok, misalnya, hanya Rp 3.000. Tiga biji wayang kertas dibanderol Rp 10 ribu. Lalu, kitiran, kluntungan, dan kurungan masing-masing dijual Rp 2.500. (zam/rg)