SLEMAN – Minimnya persiapan pemerintah dalam menerapkan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMP kian kentara. Hari pertama PPDB di Sleman Jumat (28/6) diwarnai dengan kesalahan sistem penempatan zona calon siswa (casis). Jamak casis yang terlempar ke zona dua. Padahal, seharusnya mereka di dalam sistem terdaftar di zona satu.

Anak Nur Hamid Nugroho, salah satunya. Warga Desa Caturtunggal, Depok, Sleman, ini mendaftarkan anaknya di SMPN 5 Depok. Atau di zona satu. Namun, di website PPDB, anaknya terdaftar di sekolah yang berada di zona dua.

”Saya nggak tahu ini salah siapa,” jelas Nur Hamid di kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Jumat.

Nur Hamid sempat menelusuri penyebab anaknya terlempar ke zona dua. Termasuk mencermati kartu keluarga (KK) anaknya yang tertera di website. Kendati begitu, Nur Hamid tidak mendapatkan hasil apa pun. KK-nya tetap tercatat sebagai warga Caturtunggal.

”Memang dulu alamat saya di Prambanan. Tapi, sudah saya cabut,” ucap Nur Hamid menengarai penyebab anaknya terlempar ke zona dua.

Karena itu, Nur Hamid Jumat mendatangi kantor Disdik Sleman. Untuk menyampaikan keluhan perihal zonasi.

Menurutnya, kesalahan penempatan zona merugikan anaknya. Sebab, ada aturan tentang penambahan nilai di Sleman. Untuk jarak rumah dengan radius 0-200 meter dari sekolah mendapatkan tambahan 500 poin. Lalu, zona satu mendapatkan tambahan 100 poin. Sedangkan zona dua mendapatkan 30 poin.

”Kalau di zona dua kan merugikan, karena hanya dapat tambahan 30 poin. Padahal seharusnya mendapatkan tambahan 100 poin,” bebernya.

Dia merasa ketar-ketir jika anaknya benar-benar terlempar ke zona dua. Lantaran nilai anaknya pas-pasan. Bisa kalah bersaing dengan casis lainnya. Meski, jarak rumahnya cukup dekat dengan sekolah.

”Apalagi (bersaing dengan siswa, Red) yang dapat tambahan 500 poin itu, pasti menangan,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disdik Sleman Sri Wantini mengatakan, kasus ketidaksesuaian zona akibat data dalam data kelompok pendidikan (dapodik) tidak lengkap. Padahal, penentuan zonasi mengacu pada Dapodik.

”Setelah kami telusuri ada siswa yang alamatnya tidak lengkap atau bahkan belum punya dapodik. Jadi, itu yang menyebabkan tidak sesuainya zona,” ujarnya.

Dari itu, kata Wantini, disdik segera melakukan entri ulang terhadap pendaftar yang salah zona. Caranya dengan menarik kembali data di Dapodik. Lalu, mengubahnya.

”Kan kami terintegrasi dengan dapodik,” jelasnya.

Guna mengantisipasi kekeliruan zona, Wantini meminta orang tua mengecek kembali data anaknya. Sebab, data masih bisa diperbaiki selama belum mencetak bukti pendaftaran. Sedangkan perbaikan bisa dilakukan di sekolah tujuan atau di Posko PPDB di Disdik Sleman.

”Semoga besok semua tidak ada masalah,” ujarnya.

Sementara itu, pengumuman PPDB tingkat SMA/SMK Jumat diwarnai dengan pencabutan berkas. Beberapa orang tua casis mencabut berkas pendaftaran.

Di SMAN 3 Jogja, contohnya. Ada tujuh orang tua casis yang mencabut berkas.

”Ada yang diterima di sini (SMAN 3 Jogja, Red), tapi milih sekolah lain. Ada juga yang tidak diterima di tiga sekolah pilihan,” ungkap Ketua Bidang Kesiswaan SMAN 3 Jogja Sumaryoto.

Selama proses PPDB, ada 367 orang tua casis yang mengambil token untuk pendaftaran di SMAN 3 Jogja. Namun, yang diterima 252 siswa.

”Daftar ulang hingga Rabu (3/7),” katanya. (har/cr15/zam/rg)