Setelah Sultan Agung wafat, raja yang baru memperlihatkan diri di depan publik. Putra mahkota hadir di Bangsal Sitihinggil. Di tempat ini raja yang bergelar Susuhunan Ing Ngalaga Mataram menerima ucapan selamat.

Raden Mas (RM) Sayidin yang telah berubah nama menjadi Sinuhun Hamangkurat Agung atau Amangkurat I juga mendengarkan sumpah dan janji setia seluruh jiwa raga dari para pejabat tinggi Mataram. Baik sipil maupun militer. Ucapan serupa juga disampaikan dari kerabat kerajaan.

Salah satunya dari Pangeran Purbaya. Kakak mendiang Sultan Agung atau pakdhe  dari raja baru itu memohon agar Susuhunan berkenan memberikan perhatian pada keturunannya. Khususnya bagi anak dan cucu Purbaya.

Di era Sultan Agung, Purbaya menjabat panglima Tentara Nasional Kerajaan Mataram (TNKM) merangkap kepala bhayangkara negara. Dua posisi yang strategis menyangkut pertahanan dan keamanan negara.

Sebagai bagian dari kerabat, anak dan cucu Purbaya mengucapkan janji sumpah setia. Susuhunan diminta agar mengikuti jejak ayahnya. Kerabat baik adik, kakak, maupun paman Sultan Agung semua diakomodasi. Mendapatkan posisi masing-masing di kerajaan dan tidak yang ditinggal. Karena itu, di era Sultan Agung, para kerabat kerap memberikan nasihat dan masukan yang baik kepada raja.

Usai pengucapan sumpah setia itu, para kerabat, pejabat hingga abdi dalem Mataram menghampiri Susuhunan sambil jalan merangkak. Atau laku dodok  untuk kemudian mencium kaki raja. Namun laku dodok  maupun cium kaki tidak diminta Susuhunan kepada adiknya, Pangeran Alit.

Jauh sebelum peralihan takhta itu antara Sayidin dengan adiknya terlibat rivalitas yang keras. Keduanya sama-sama mengincar singgasana Keraton Mataram. Keduanya juga saling menggalang dukungan. Mengetahui polarisasi itu, Sultan Agung tidak ingin elite dan rakyat Mataram terpecah.

Maka Sultan Agung menyusun aturan suksesi secara cermat. Tujuannya agar tidak timbul kegaduhan maupun kudeta pascakematiannya. Benar suksesi dari Sultan Agung kepada penggantinya berjalan mulus.

Setelah semua proses pengucapan janji dan sumpah setia hingga mencium kaki raja selesai, Susuhunan Amangkurat I segera menyampaikan pidato politik. Dalam pernyataannya, raja baru menegaskan komitmennya. Dia berjanji melanjutkan cita-cita ayahnya yang belum terwujud.

Amangkurat I berjanji menghormati semua pejabat kerajaan di era ayahanya. Penghormatan dilakukan lebih daripada yang lain. Dia juga menaikan pangkat luar biasa kepada sejumlah pejabat. Di antaranya Tumenggung Wiraguna.

Baru setelah itu selesai, gerbang kerajaan segera dibuka. Upacara pengangkatan raja kelima Mataram dinyatakan rampung. Raja baru masuk kembali ke keraton. Susuhunan tidak balik ke kediamannya Ndalem Kadipaten, namun langsung tinggal di Ndalem Prabayeksa  yang menjadi tempat tinggal raja.

Meski kakaknya telah diangkat sebagai raja baru, Pangeran Alit tetap melanjutkan sikap politiknya. Dia menolak masuk dalam kabinet Amangkurat I. Dia memutuskan tetap berada di luar pemerintahan.

Pangeran Alit memimpin oposisi Mataram. Dalam sikapnya, adik raja ini menegaskan menghormati semua proses transisi kekuasaan dari ayahnya kepada kakaknya. Namun dia tidak secara eksplisit menerima penetapan Sayidin sebagai pemimpin baru Mataram. Barisan oposisi tetap menghendaki Alit memegang janjinya. Tidak masuk dalam koalisi pemerintahan baru. (zam/rg)